I’m Not Wicked Princess Part 1.2>2shot<

Title                 :  I’m not wicked princess

Author             :  PARK SOJINKEY

Main Cast        :  Onew, Kim Nana

Support Cast    :  other member shinee, Kim Chaeri, Kyuhyun, Kim Nana & Kim Chaeri omma, dll

Length             :  two shoot

Genre              :    Family,  Romance

Rating              :  General

Sebelumnya FF ini pernah d publis di blog faforitku.. kritik dan saran yang sangat membangun dari readers sekalian yang sudah baik hati mau mengoment FF perdanaku membuatku tergerak untuk mengeditnya ulang makasi yang udah comment…. gumawo#bow J

Putri jahat dan putri salju.

Panggilan akrab antara aku dan eonie ku. Aku putri jahatnya, dan eonie ku putri saljunya. Plis! jangan tanya kenapa, karena sebentar lagi kalian pasti tau kenapa dan ada apa. Aku hidup di keluarga yang sangat sederhana. Walaupun appa ku sudah tiada, ibuku selalu banting tulang untuk mencukupi keperluan hidup kami sehari-hari. Dan tentu saja aku mempunyai satu saudara perempuan bernama Kim Chaeri. Sedangkan namaku, Kim Nana. Annyeong para readers semua…….*teriak pakek toa* manasseo bangapsumnida.

 Putri jahat… apa kalian pikir aku benar-benar jahat seperti di cerita putri salju? Jangan bercanda… sama halnya dengan manusia lain. Aku makan, aku tidur, aku mandi. Dan apa kalian pikir, aku menyiksa eonie ku sendiri karena aku merasa dia lebih cantik dariku? Sekali lagi, jangan bercanda.. Memang eonie ku itu sangat cantik. Dia perimadona di kampus. Semua namja suka padanya, tidak ada terkecuali. Aku jamin itu. Kuakui aku iri padanya. Ingin seperti dia, tapi setelah di pikir-pikir. Apa untungnya jika aku berdandan dan bersikap sama sepertinya? Kurasa tak ada. Aku tidak suka memakai make-up. Tidak seperti eonie ku. Setiap mau berangkat ke kampus pasti bersolek dulu di depan kaca. Aku tidak suka itu. Aku lebih suka menjadi diri sendiri. Inilah aku.

Hari ini adalah hari senin. Aku ada kuliah pagi ini. Sebenarnya aku malas untuk pergi ke kampus hari ini. Disamping tidak ingin bertemu eonie ku di kampus, juga tidak mau bertemu dengan genk “shinee”. Shinee adalah lima namja yang gantengnya gak ketulungan, itu kata orang. Tapi kalau kataku, biasa aja tuh! *author: “yakiiiin?* Terdiri dari:

  1. Lee jinki atau lebih sering dipanggil Onew. Karena dia tidak suka orang memanggil namanya dengan nama asli, maka orang-orang memanggilnya dengan sebutan Onew. Tidak nyambung memang. Dan aku pun tak tahu mengapa. Dia adalah leadernya shinee, suka ayam
  2. Kim Jonghyun. Panggilanya Jjong. Karena menurut dia, nama Jjong itu. Imut, manis, singkat, padat, dan jelas. Dan juga paling player
  3. Kim Ki bum. Nama lainnya Key. Karena saking banyaknya anak-anak kampus yang bernama Kim ki bum, akhirnya dia mengganti namanya dengan “Key”. Kunci?? Aneh kan?. Tapi anak-anak kampus terutama yeoja di kampus beranggapan bahwa itu keren,manis dan bla…bla…bla…
  4. Choi Minho. Panggilannya Minho. Dia aktif di semua bidang olahraga yang ada di kampus. Dari basket, sepak bola, karate, judo dan lain-lain. Julukannya keroro, mata besar, si suara berat dsb
  5. Yang terakhir, lee Taemin. Paras wajahnya berbeda dengan umurnya. Orang yg tidak mengenalnya, pasti mengira dia masih High School. Dia namja paling imut, diantara kelimanya. Dan kelakuannya pun masih seperti anak kecil. Agak manja manja dan suka ber-aegyo ria. Kurasa aku masih bisa bersyukur. Beruntung Tuhan tidak mentulikan telingaku. Kenapa? Karena yeoja-yeoja dikampus ini berteriak gila begitu melihat Taemin ber-aegiyo. Huft! Aku benar-benar bisa gila

Sekian mengenai shinee. Kenapa aku tidak mau bertemu mereka di kampus? Mereka(shinee) selalu jalan berdampingan dengan eonieku di kampus. Dan itu membuatku risih dan tidak suka. Bukannya aku cemburu. Tapi gara-gara mereka berenam, aku mendapat panggilan “putri jahat”. Aku jarang tersenyum. Cenderung tertutup dengan dunia luar. Tidak perduli dengan lingkungan sekitar. Dan hanya memperdulikan diri sendiri. Jangan heran tahun pertama kulalui kehidupan di kampus dengan tidak mempunyai seorang teman sama sekali. Jika ada yang mau berteman dengan ku, itupun karena aku adiknya “Kim Chaeri”. Aku hanya di manfaatkan. Aku tahu itu. Belum lagi mereka mengorek ifnfo tentang Shinee dariku. Capek deh! Halloooo…. Aku bukan fans shinee seperti kalian. Dan ingat aku tidak suka mereka. Aku tidak memperlihatkan ketidak sukaan ku ke mereka pada orang lain. Karena orang bilang benci bisa berubah jadi cinta. Aku menghindari hal itu, dan berusaha untuk tidak terlalu benci pada mereka.

            “Ya!!!!Kim Nana. Sampai kapan kau akan terus tidur di kasur mu itu? Kau kan ada mata kuliah pagi ini!!!!!!” Ck! Omma tidak tahu, kalau anaknya ini sudah bangun dan siap pergi ke kamar mandi? Liat dulu kek, kalau mau ngomel (-.-‘)

            “Ne omma!!!! Aku sudah bangun. Dan aku akan mandi sekarang!!!!” Aku meneriaki omma yang masih ada di dapur.

            “Tidak bisakah kau seperti eonie mu? Dia bahkan bangun 2 jam yang lalu. Dan sudah berangkat ke kampus sekarang. Dasar pemalas. Kau ini sebenarnya anakku atau bukan!? Aigo.. aku saja dulu tidak semalas ini, kenapa aku jadi mempunyai anak semalas itu ya Tuhan”

Haaaaaaah,,, aku hanya diam di ceramahi nasehat yang sama setiap harinya. Tidak dirumah tidak dikampus sama saja. Anak-anak kampus, belum lagi para dosen. Hanya berkomentar “ternyata kau sangat berbeda dengan eoniemu.”. Dan aku bisa apa? Melawan? Sudah kukatakan, aku adalah orang yang tidak peduli dengan sekitar. Bagiku omongan atau tanggapan mereka seperti angin. Yang wussss….. berlalu begitu saja. Tapi kalau ditanya aku sakit hati atau tidak, yah pasti lah jawabannya sakit.

            Belum lagi perkataan omma, “Kau ini sebenarnya anakku atau bukan?” Sumpah …. Sakit sekali rasanya. Aku sudah selesai mandi. Dan kini aku berada di meja makan. Aku sarapan dalam diam. Berusaha menyantap cepat sarapan ku dan pergi kekampus. Setelah 20 menit lamanya, nasi plus lauk yang ada di piring sudah sukses berpindah keperutku sekarang.

            “Omma, aku berangkat!”.

“Nana”. Aku berbalik karena merasa namaku di disebut.

“Ne…” jawabku sekenanya.

“Kelihatannya eonie mu sedang tak enak badan. Omma sangat khawatir. Tolong jaga dia,  perhatikan gerak geriknya, kalau dia tak bisa menahan sakitnya langsung kau ajak pulang.”

“Mwo? Memangnya aku baby sitter? Dia kan sudah besar. Dan dia bisa menjaga dirinya sendiri. Untuk apa aku menjaganya? Ck! Kurang kerjaan”. Aku hendak pergi, tapi tertahan karena mendengar omongan omma yang begitu menusuk hati. “Ya!! Anak nakal!!! Omma kan hanya menyuruhmu untuk menjaganya saja. Pokoknya, jika terjadi apa-apa dengan eonie mu, awas saja nanti. Jangan harap ada makan malam untukmu nanti di rumah” Omma mengakhiri omelannya, yang kutanggapi dengan mengerjap-ngerjap mata dengan bosan.

“Araso…aku pergi” Kalau aku tadi tidak mengatakan ‘araso’, aku jamin percecokan kecil kami tadi pasti belum berakir.

Korea University

Yak! Disinilah aku kuliah. Korea university. Eonie ku juga kuliah disini. Sudah kukatakan kan?

Eonie ku sekarang semester tujuh dan aku baru semester lima. Aku bingung mau melakukan apa di pagi yang agak mendung ini. Ingin  masuk kelas, tapi sudah terlambat. Padahal terlambatnya hanya 3 menit. Maklum dosen nya sangat disiplin masalah waktu. Jadi jika ada mahasiswanya terlambat saat jam dia mengajar (?), maka mahasiswa itu tak diijinkan masuk. Dan itu terjadi denganku sekarang. Tadi kulihat plus kudengar orang-orang yang mengejek ku terutama yeoja. Mereka cekikikan seperti kuntilanak melihat aku di omeli oleh dosen. Sial!

Aku duduk dibangku taman. Kukeluarkan novel karangan Christouper Paolini dari tas ranselku. Kalian tahu kan apa yang aku baca? Eragon. Buku pertama dari trilogy warisan. Aku suka membaca novel fantasi. Mulai dari Harry Potter dari satu sampai tujuh serinya sudah pernah aku baca. Kemudian Lord of the Rings, Twilight dan masih banyak lagi. Walaupun aku hobi membaca novel yang tebalnya lebih dari 500 halaman itu, aku tidak suka semua buku. Terutama buku yang berkaitan dengan mata kuliah. Pokoknya aku hanya suka membaca novel fantasi. Dimana kejadiannya tidak benar-benar terjadi di dunia nyata.

Aku berkutat dengan buku ku dalam kesendirian. Sampai tiba-tiba 5 namja datang menghampiriku. Siapa lagi kalau bukan shinee.

“Nana-ssi, apakah kau tau eoniemu dimana? Apa dia datang ke kampus hari ini? Dari tadi kami mencarinya di sekitar kampus, tapi tak ada. Apa kau melihatnya Nana-ssi?” kuhentikan aktifitas membacaku dan kumasukkan buku ku kembali ke dalam ransel. Aku tahu tadi Jjong berbicara padaku. Tapi aku hanya diam melihat mereka berlima. Heran tentu saja.

“Nana-ssi, kau mempunyai mulut kan? Gunakanlah pemberian tuhan dengan bijak selama kau masih bisa menggunakannya Nana-ssi” kata si suara berat, Minho. Ekspresiku hanya datar tak bergeming mendengar pernyataan Minho. Walaupun dalam hati aku memaki, perkataannya lebih tajam daripada pisau yg sudah diasah. Tersinggung aku mendengar perkataannya. Tp aku berusaha untuk tetap tenang.

“Minho oppa!!!”, si empunya menoleh ke sumber suara, begitu pun juga aku dan ke empat member lainnya. “Lebih baik kau jangan bertanya dg putri jahat!!!. Putri jahat kan selalu iri dg putri salju. Selain karna kecantikan yang diibaratkan bumi dengan langit, putri jahat juga merasa iri karna kalian berlima lebih perhatian dengan putri salju!!”

Apaan sih?! Putri jahat putri salju. Memangnya ini dongeng? Ketiga yeoja yg duduk depan bangku taman yang aku duduki, ternyata menguping pembicaraan kami. Masih dengan ekspresi cekikikan mereka menertawaiku. “Gemanae… kalian seperti anak kecil!” kata si Minho tegas. Ketiga yeoja itu sontak terkejut dan berlalu pergi, “Mianhae oppa…”

Huh! Rasakan!!. Karena kesal , aku beranjak melangkahkan kakiku untuk cepat-cepat lenyap dari tempat ini, pergi meninggalkan mereka berlima. Tapi tidak terlaksana, karena Onew menarik pergelangan tanganku.

“Ya!!! kau belum menjawab pertanyaan kami. Dan kau ingin pergi begitu saja? Dasar yeoja tidak sopan.” Merasa tersulut dengan perkataan Onew, aku pun menjawab, ”Pertama, bisa kau lepas tanganmu? Aku kesakitan!”. Dia melepaskan tanganku, menyadari aku sedang kesakitan. Dan tampangnya seperti merasa bersalah?!

“Kedua, aku tidak tahu dan tidak mau tahu dia ada dimana sekarang. Memangnya aku baby sitter? Yang slalu menjaganya kemana ida pergi?”Aku menyeringai, “Jangan bercanda… Aku sudah cukup bosan melihatnya di rumah.” Aku pergi meninggalkan mereka berlima. Hingga salah satu dari mereka berlima melontarkan perkataan yang paling sangat aku benci. “Dasar egois!” aku tahu siapa yg bicara. Key. Aku tak peduli mereka mau memanggilku apa. Inilah diriku. Inilah diriku yang apa adanya. Aku tidak menyangkal bahwa aku egois. Itu memang benar. Bahkan sangat benar.

Omona!!!??? Sudah jam lima sore. Aku terlalu menhayati membaca eragon di perpus sampai lupa waktu. Ah…..pabo pabo. Sampai di rumah aku pasti terkena semburan omelan dari omma. Belum lagi aku tidak pulang bersama ‘putri salju’. Pasti omma marah, karena aku tidak menjaga putri salju dengan baik, yang katanya lagi tak enak badan itu. Kuraih ransel ku, dan keluar dr perpus dg berlari.

Sesampainya di rumah, kulihat mobil jaguar terpakir di depan rumahku. Mobil siapa pula ini? Ah..sudahlah, itu buka urusanku Aku membuka pintu masuk, tanpa memencet bel terlebih dahulu.

Ceklek *critanya suara pintu yg di buka*

Kulihat omma di dapur, kelihatannya sedang sibuk. “aku pulang”, kataku santai. Omma menatapku dengan ekspresi kesal. Membawa nampan yang berisi minuman plus camilan. Siapa yang bertamu? Kuedarkan pandanganku ke ruang tamu. Omo!? Kenapa kelima namja itu ada disini? Jangan..jangan..jangan jangan terjadi sesuatu lagi dengan si putri salju?! Gawat

Dengan langkah gontai, aku menuju tangga hendak menuju ke kamar. Aku malas menyapa mereka (shinee). Rasanya masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Aku jadi eneg (mian), melihat muka mereka.

“Kim Nana” Omma memegang lengan kanan ku dg geram. Hampir saja aku kehilangan keseimbanganku. Jika aku tak berpegangan pada pegangan tangga (?), aku yakin aku pasti jatuh saat itu. “Omma!!! Aphuda…Sakit lepaskan.” kataku meronta. Tapi omma tak urung juga mau melepaskan. Kelima namja itu hanya melihat kami dengan ekspresi yang gak bisa di tebak. “Omma sudah bilang kan?! Jaga eonie mu di kampus! Dia sedang tak enak badan. Untung saja ada teman-temannya yang mengantarkannya pulang. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi.” Omma mulai berteriak frustasi. Aku hanya diam.

“Kau memang anak yang tidak bisa di andalkan!!!! Apa kau tidak mengasihaniku? Aku kerja banting tulang untuk kuliahmu!! Tapi apa balasan yang kau berikan padaku??!!” Omma kini sudah mulai aku-kauan aku-kauan. Kebiasaan omma memang begini jika sudah marah-marah. “Tidak bisakah kau seperti eonie mu? Dia rajin, pintar, disayangi teman-temannya dan tentunya tidak merepotkan orang lain seperti kau!!!” bagai di tusuk ribuan peniti. Begitulah hatiku sekarang. Omma memarahiku di depan kelima namja ini? Memalukan,,, jatuh sudah harga diriku.

“Gemanae omma” jawabku lirih. Omma menghentikan omelannya. “Ya,,, memang benar aku adalah anak yg tidak bisa diandalkan. Bahkan aku ragu, aku anak omma atau bukan. Aku merasa…aku merasa, omma selalu diskriminasi terhadapku. Selalu membanding-bandingkan ku dengan eonie. Selalu mencari-cari kesalahanku.” Aku sadar aku mulai menangis sekarang

            “Bukan omma saja yang bersikap begitu padaku! Tapi orang lain juga. Tidak anak2 dikampus, dosen, bahkan tetangga pun juga sama saja. Selama ini aku berusaha untuk tetap tidak bersikap egois. aku ingin berubah. Aku ingin seperti eonie. Tapi kalian semua, selalu menekanku. Selalu membeda-bedakan ku dengan si putri salju itu!!!!!!” Aku berteriak. Kelima namja itu, berdiri, melihat ekspresiku dengan simpati. Sedangkan omma mengedarkan pandangannya kearah lain. Memikirkan sesuatu.

            “Aku lelah omma, aku lelah. Apakah selama ini, omma pernah menanyakan keadaanku? Apakah aku sudah makan? Apakah aku baik-baik saja?”Aku tersenyum mengejek, “Tidak kan? Selama ini hanya eonie eonie saja yang ada di pikiran omma. Itu membuatku cemburu. Dan itu membuatku tidak ingin berinteraksi dengan orang lain. Malas. Yang dibicarakan pasti tentang eonie..eonie…eonie saja. Aku muak!”

            “Omma, neo ara? Aku juga sedang sakit sekarang. Bukan eonie saja yang sakit. Bedanya, dia hanya sakit fisik, sedangkan aku, aku sakit disini.” Aku menunjuk dadaku.Aku malas untuk pergi kekamar. Aku memilih kluar rumah saja. Kelima namja itu melihat kepergianku dalam diam.

            Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Aku ada di halaman rumah, menaiki ayunan. Kami memiliki sepasang ayunan di halaman rumah kami. Almarhum ayahku yang membuatnya. Sambil terus menatap langit, yang sudah agak gelap, dan mulai bermunculan bintang, aku bergumam, “Appa, maafkan aku. Hari ini aku bertengkar dg omma. Aku tidak bisa menjadi anak yang baik.”

“Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis. Kupikir kau tidak pernah menangis. Ternyata kau rapuh juga.”

            Sontak aku terkejut. Di depanku, tiba-tiba saja sudah berdiri seorang namja. Dia tersenyum. Aigo! Tersenyum saja udah membuat matanya hilang begitu. Apalagi tertawa?!

“Onew-ssi kau membuatku kaget”

“Mianhe…..” Itu saja???? Dasar!!!

            Sekarang dia sudah duduk di ayunan yang satu lagi. Sambil menggerakkan ayunan pelan, dia berkata, “Nana-ssi neo aro?”

“Mwo?” jawabku dengan pandangan yg lurus menatap ke depan.

“Kukira selama ini kau tanpa ekspresi”

“Maksudmu? Aku tak mengerti?.” Tak mengerti?? Aku tahu dia menyindirku sekarang. Ah, bukan tepatnya mengejekku. Sambil memasang tampang yang agak kesal, kutatap wajahnya. Menunggu jawaban.

            “Ku kira kau tanpa ekspresi. Pendiam, tak mau menghiraukan lingkungan sekitar, hanya mementingkan diri sendiri. Itulah dirimu. Tapi setelah melihat kejadian tadi, penilaianku padamu seketika berubah. Kau..menangis” katanya, sambil menghentikan ayunan tiba-tiba.

“Kau baru pertama kali melihat orang menangis? Ck! Sampai sebegitunya, jangan lebay deh” Sambil senyam senyum geje, Onew menjawab, “Ani…ani, bukan begitu. Itu fenomena langka, seorang ‘Kim Nana’ yang tanpa ekspresi menangis?? Kalau anak-anak di kampus tahu, pasti heboh. Masalahnya adalah, kau jarang sekali mengekspresikan diri. Makanya kami (shinee) kaget melihat kau menangis tadi.”

            “Oh…….” Aku hanya menjawab sekenanya. Kugerakkan ayunan pelan, lalu aku berpikir. Benarkah aku tanpa ekspresi? Tidak  pernah tersenyum? Tidak  pernah tertawa? Eh! Tunggu dulu, aku ingat sesuatu. Ya!!!! Nana pabo!!! bagaiamana mau tersenyum dan tertawa? chingu saja kau tidak punya di kampus. Mau tertawa ditemani oleh penunggu pohon besar belakang kampus?

“Ternyata sikap mu begini itu, karena kau iri dengan kakakmu? Karena kau menganggap ibumu lebih menyayangi kakakmu daripada dirimu?” aku manggut-manggut. Malu sebenarnya. Ini pertama kalinya aku curhat dengan seseorang. Ditambah lagi orang ini Onew, anggota shinee.

            “Hah…. Kim Nana…. Kim Nana”  dia mendesah panjang, dan mendorong ayunannya kuat2. “Memangnya kenapa?” aku terus melihatnya. Ayunannya bergerak cepat. Kedepan kebelakang, kedepan kebelakang.

            Dia menghentikan ayunannya. Lalu mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya. ‘apa itu?’, pikirku dalam hati. Kukira dia mau mengeluarkan apa. Ternyata hanya sebuah permen. Permen lollipop. “Ini…ini untukmu” katanya seraya membuka bungkus plastiknya dan di sodorkannya lagi padaku.“Onew-ssi, kau pikir aku anak kecil? Yang kalau sudah diberi permen akan berhenti menangis? Permen lollipop lagi!?” Tapi namja yang di depanku ini terus saja senyam senyum, senyam senyum.

            “Sudah ini makan saja” Dia menyodorkan permen itu padaku, yang sekarng sukses berada dalam mulut. Sebelum aku mau berteriak marah, tiba-tiba saja ada namja yang memanggilnya. “Hyung! Sebaiknya kita pulang sekarang.” Aku menoleh, kudapati ada empat namja yang melihat kami, heran

“Ne… Key” sambil mengusap rambutku pelan Onew berkata, “Kami pulang dulu ya! annyeong Nana-ssi”. Cih! Memangnya dia siapa? Sembarangan main sentuh rambut orang. “Kami pulang dulu Nana-ssi”, kata si suara berat, yang kujawab dengan anggukan pelan.

            Mobil jaguar itu sudah tak ada di depan rumahku lagi. Menandakan mereka (shinee) sudah pulang. Cukup lama aku diam di luar, otomatis itu membuatku kedinginan. Permen pemberian dari Onew pun sudah habis aku makan. ‘Dari pada mati kedinginan di luar, mending aku masuk saja deh’, batinku. Aku membuka pintu. Sepi. Sepertinya omma sudah tidur. Sebenarnya aku ingin langsung kekamar, tapi tertahan karena ingat, sebelum pulang kerumah tadi, aku membeli sesutu di apotik. Apakah itu? Tentu saja obatkan?! Masa membeli ramyeon di apotik? Jngn bercanda…

            Kumasukki kamar eonie ku yang hampir tak pernah aku masuki sama sekali. Terakhir aku masuk ke kamarnya itu, kira-kira… kapan ya? ah! Molla… penyakit manusia, apalagi namanya kalau bukan lupa?. Sedangkan yang punya kamar, tampak tertidur pulas di balik selimut. Mungkin karena pengaruh obat. “Sebaiknya ku taruh dimana ya? ah! Disini saja” Kuputuskan menaruh obat itu, disamping gelas yang full berisi air putih. Sekarang aku sudah keluar dari kamar eonie ku. Terbukti kan? Aku bukan donsaeng yang jahat? Kalaupun aku benci padanya, tapi tidak sampai segitunya kali! Bagaimanapun juga dia masih eonie kandungku.

Keesokan paginya, aku benar-benar bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan sebelum omma ku bangun, aku sudah berangkat ke kampus. Padahal tidak ada mata kuliah pagi ini. Aku masih canggung berada di rumah. Aku benar-benar merasa bersalah pada omma. Aku benar2 tak enak dengan omma ku itu. Bagaimana tidak? Aku berteriak-teriak padanya. Dasar!!! Nana anak durhaka.

Sambil berjalan di tengah kampus, aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Omo! Baru jam 6. Aku mendelik melihat jam, ternyata masih sangat pagi. Sebaiknya aku pergi kemana sekarang? Ini masih sangat pagi. Aku juga belum sarapan. Sial! Habisnya tadi aku terlalu terburu-buru, tidak sempat sarapan. Akhirnya aku sekarang sedang duduk di bangku taman kampus, seperti biasa aku membaca novel. Apa lagi? Karena tak ada yang kukerjakan, kuputuskan membaca di taman ini sendirian. Ya, sendirian dan aku tidak takut.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Matahari sudah tampak meninggi, menandakan hari sudah mulai agak siang dan perutku ‘kruyuk……’, sudah minta diisi. “Ah….. sijanghada….. mogoshipoyo…..”. Kuelus perutku layaknya ibu-ibu yang sedang hamil. “Kalau lapar ya makan! Kau ini rumit sekali!?”. Aku terkejut (lagi?), dari suaranya aku sudah bisa menebak. Onew. Apa hobinya itu selalu membuat orang terkejut? Heran… ckckckck. Duduk di sampingku tanpa perasaan berdosa sedikitpun. Pandanganku masih mengarah padanya, kesal tentu saja.

Aku tersentak dengan perbuatannya yang tiba-tiba mengenggam tanganku, ingin membawaku pergi. Entah kemana. “Ya! mau kemana?!?”

“Kau lapar kan?! Ayo kita makan ke kafe latte.”

“Tapi….”

“Aku yang traktir, tenang saja.” Traktir? Gratis? Siapa yang tak mau gratisan di dunia ini?. Aku mau mau saja dibawa pergi olehnya. Aku tergoda dengan kata ‘gratis’ yang dia tawarkan tadi. Hehehe.. hitung-hitung hemat uang jajan.

            Aku, eh bukan, maksudnya kami sekarang sudah berada di depan kafe latte. Baru saja Onew ingin masuk ke dalam kafe, tapi tertahan karena aku masih diam ditempat.

“Wae? Katanya kau lapar? Ayo masuk!”

“Ne.. aku memang lapar. Tapi bisakah itu….” Aku menunjuk tangan Onew yang masih mengenggam erat tanganku, dengan mataku.

“Ah… mian, aku lupa, habisnya lembut sih!?”

“Mwo?”

“Ani, ayo masuk.”

            “Onew hyung!!!! Kami disini!!!” Taemin melambai-lambaikan tangannya memberi isyarat pada Onew. Mwo??? Ige mwoya? Bloody hell!!? Si Jjong, Key, Minho, Taemin plus putri salju, kenapa ada disini juga? Omigod?! “Ayo mereka sudah menunggu kita” Onew sudah ingin meraih tanganku lagi, tapi aku mengelak dan menyembunyikan kedua tanganku di balik punngung. “Changkaman, kenapa kau tak memberitahuku kalau mereka ada disini juga?”

“Setahuku kau tadi tak bertanya?”

“Mworagoyo? Memang harus bertanya dulu?” kataku emosi. Kelihatannya sengaja sekali! Aku diajak ikut kumpul-kumpul dengan mereka plus si putri salju itu? Ah! Ogah!noway! Seperti orang arisan saja pada kumpul-kumpul…..

“Ah, sudahlah. Toh Cuma makan bersama. Gratis pula. Kata eonie mu kau suka yang gratisan?!” Aku mendelik marah padanya. Kutatap sinis matanya seperti ingin mengajaknya duel tinju sekarang juga. “Ups! Keceplosan..” katanya sambil memegang bibir. Aku memang suka yang gratisan. Tapi darimana eonie tahu?. “Onew-ssi sebaiknya aku makan sendiri saja. Aku tidak suka terlalu ramai. Rasanya tidak nyaman, risih, dan……..”

“Eh! Pendek, tumben kau datang kemari. Biasanya kau selalu di perpus jam segini” kata namja yang berada di belakangku. Otomatis aku berbalik. Tampak Kyuhyun oppa pemilik kafe latte ini, tengah berdiri dengan membawa nampan kosong disalah satu tangannya. “Kyuhyun oppa! Berhenti memanggilku pendek! Nan shiroyo!”

JINKI POV

“Kyuhyun oppa! Berhenti memanggilku pendek! Nan shiroyo!”

Mwo? Oppa? Ck! Siapa namja ini? Sampai seorang Kim Nana bisa memanggilnya oppa? Padahal aku juga ingin dipangil oppa oleh Nana. Cemburu nih, cemburu! Nana pabo! Pabo!! Pokoknya pabo!!! “Onew-ssi” Suara Nana membuyarkan lamunanku. “Ne?”, sahutku tetap tenang. “Aku makan bersama Kyuhyun oppa saja. Sedangkan mengenai traktiran, aku bisa mengambilnya lain waktu. Annyeong Onew-ssi”

            Eh!eh! dasar yeoja tidak sopan dia malah mengingalkan ku sendirian disini. Ini pasti gara-gara namja itu. Apakah dia namja chingunya?ah..molla, tweso!ah!!!. Bisa gila aku lama-lama.

Sekarang aku duduk dengan member shinee yang lain plus Kim Chaeri. “Waeyo hyung? Kenapa muka hyung ditekuk begitu? Dan kenapa Kim Nana tidak makan bersama kita?” tanya si maknae Taemin. “Apakah kau tidak memberitau, kalau kita makan disini juga?”, tanya si Key. “Ehm….” Aku hanya bisa menjawab singkat. Mataku terus saja melihat Nana bericara dengan santai bersama namja itu. Siapa tadi namanya? Kyuhyun?

            “Padahal aku ingin mengucapkan terimakasih pada donsaengku. Inginnya tadi pagi. Tapi dia keburu kabur. Eh! Tidak taunya dia datang ke kampus hari ini. Padahal sekarang dia tak ada jadwal kuliah.” Chaeri tampak kecewa. “Memangnya kau inginberterimakasih untuk apa?” Keroro bertanya antusias. Penasaran aku mendengar keluh kesah si Chaeri, kalihkan pandanganku ke Chaeri menunggu ia menjawab. Memangnya Nana melakukan apa sampai Chaeri ingin berterimakasih segala?

            “Itu loh, tdk disangka-sangka Nana membelikan ku obat!? Bahkan semua obat dibelinya. Mulai dari obat sakit kepala, obat pilek, batuk, obat demam, obat sakit perut, obat haid, dan apa lagi ya?ah! banyak…  lupa jadinya. Jadi terharu deh!? Ternyata Nana tidak terlalu benci padaku.  Itu membuatku lega. Omma memberitauku bahwa ia sama sekali tidak pernah merasa membelikanku obat. Disana aku yakin, bahwa obat itu pasti pemberian Nana”

“Chongmalliyo? Aku tak menyangka Nana perhatian juga ternyata. Kita salah menilainya selama ini”, Jjong tampak merasa bersalah dan diikuti member lain kecuali Onew. ‘Kita? Loe aja kali gua gak!’ Kalau tidak dalam keadaan hati yang over bad, aku pasti sudah mengeluarkan sangtaeku kali ini.

TBC**********

Iklan