I love U! Trust Me!

Title                 :  I LUV U! TRUST M3

Author             :  PARK SOJINKEY

Main Cast        :  Onew, Kim Nana

Support Cast    :  Cho Kyuhyun, Kim Chaeri

Length             :  one shoot

Genre              :  Romance

Rating              :  General

Segala yang terjadi dalam ff ini hanya karangan dari author belaka. Mian, kalau ada kata2’na yang gak enak. Itu hanya untuk keperluan cerita saja. Harap maklum. . Nah, ff  ini bisa dibilang kisah lanjutannya Onew oppa ma Kim Nana di ff aku sebelumnya. Jadi buat para readers yang tercinta disaranin baca “ I’m not wicked princess” dulu biar ngerti. Eh! Tapi gak dibaca juga gak papa kok. Author gak maksa. Gak di baca juga readers pada ngerti. Readers kan pinter2, ya gak? Hehehe. J

Chapter sebelumnya : Part 1 Part 2(End)

Author POV

                “Yeoboseyo.? Chagiya, neo odhiga? Hari ini, kita jadi bertemu ditaman kan? MWO? Kau lupa?? Aish!! Kau ini! Ah… molla. Tweso!!!.” Namja itu mematikan hp-nya dengan kasar. Kemudian dia duduk  dibangku taman dengan ekspresi yang sangat kesal. Baru saja ia menelfon yeojachingunya. Padahal mereka sudah berjanji untuk bertemu hari ini di taman. Tapi sayang yeojanya lupa dan itu membuat si namja jadi marah, Plus kesal. Hubungan yang baru mereka mulai selama tiga bulan, membawa rasa khawatir tersendiri bagi si namja.

                Bagaimana tidak? Baginya, si yeoja tidak pernah ada rasa perhatian sedikitpun padanya. Selalu cuek. Sering lupa kalau janjian. Telat. Kalau telat buanyak banget dah alasan. Sebenarnya si namja sudah tidak tahan dengan sikap cuek yeojanya. Tapi dia tidak mau putus hubungan begitu saja. Dia masih sangat sayang dengan yeojanya itu.

                Masih dengan hati yang kesal, kaleng bekas minuman yang ada dihadapannya dengan rela dan tanpa protes menjadi amukan si namja. Ditendangnya kaleng itu tanpa dosa, dan wuiiiiiinnnngggg…….. kaleng itu terbang melambung dan…… sukses mengenai dahi seorang yeoja manis. “Aiyak! Oppa!!”

“Oh???”. Si namja pelaku penendangan kaleng hanya bisa terkejut. Karna kaleng itu ternyata mengenai dahi yeoja chingunya, Nana. “Chagiya! Neo gwenchana? Apo? Odhi apo?” tanya si namja panik seraya menghampiri Nana. “Oppa! Kau kesal padaku karna aku lupa kita mau janjian disini? Kalau iya, jangan sampai nendang kaleng kenapa? Sakit nih! Syukur bukan orang lain yang kena!?” Nana mengomel pada namja chingunya Onew dengan sebelah tagannya yang memegang dahi. Si tersangka tampak tak mendengarkan omelan Nana, karena ia tengah sibuk memeriksa jidat Nana yang kena kaleng. Alhasil, ada warna kebiruan di dahi yeoja chingunya itu.

“Ah…ah…ah….. apa….apa….apa!! Oppa!! Hentikan! Sakit nih!?” Nana hanya bisa merengek kesal pada namja chingunya yang satu ini. Udah dibilang sakit, masih saja dipencet-pencet. “Chagiya, dahimu memar… Aish! Ini semua karna aku. Coba aku tidak menendang kaleng itu tadi, pasti tidak akan begini jadinya.” Ekspresi menyesal tampak kentara sekali di wajah Onew. “Dubu oppa, nan gwenchana. Toh cuma memar, gak pa pa kok. Geogjonghajima. O? Oppa, oppa igo baba. Oppa lihat aku.” Mata Nana kini menatap lurus mata Onew dengan penuh kasih dan sayang. Dibelainya pipi Onew lembut sambil berkata, “Oppa, aku baik-baik saja. Tak usah khawatir. Ara?” Onew hanya bisa menganguk pelan. Dia sangat dibuat kaget dengan kelakuan yeojanya yang tiba-tiba berubah drastis ini. Jarang-jarang mereka bisa semesra ini. Di kampus pula.

Memar di dahi Nana, sudah tidak terlalu terlihat. Itu karena tertutupi oleh poninya yang lumayan panjang. Mereka duduk di bangku taman, yang bercat putih bersih. Diam. Sepi. Situasi ini membuat Nana menjadi tak enak. Dia merasa bersalah pada namchin nya ini. Kalau cuma sekali sih, tak apa. Tapi dirinya sudah membuat kesal Onew berkali-kali. Tapi tampaknya Onew masih bisa menerima Nana apa adanya. Mungkin terlalu cinta kali.

Nana POV

“Oppa mianhae, aku benar-benar lupa, hari ini kita mau janjian di taman. Tadi ada tugas kuliah yang belum aku kerjakan. Terpaksa nyontek (?) punyanya Jisun.” Jisun adalah chinguku di kampus. Betapa bodohnya dulu aku tak ingin berteman dengan siapapun. Aku menyesali hal itu. “Suer deh oppa. Aku gak bo’ong. Kalau oppa gak percaya, coba deh tanya Jisun.” Setelah sekian menit menunggu dia menjawab, akhirnya dia berkata, “Baiklah, aku terima maaf mu.Tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”, tanyaku penasaran. “Panggil aku chagiya juga. Masak cuma aku doang yang manggil kamu chagiya, kan gak fear!?”, jawabnya protes. Onew menatapku penuh harap. Berharap agar aku mau memanggilnya chagiya juga. “Oppa, chagiya itu udah kuno. Lagi pula aku kan punya nama panggilan sayang sendiri, untukmu.”

“Apa?”

“Dubu. Dubu oppa. Manis kan?”, sahutku, sambil menyikut lengan kanannya, bermaksud mengodanya. “Apa itu? Dubu? Memangnya merek tofu, Dubu?? Yang bener saja! Jangan ngiklan deh!”, semburnya kesal.

“Oppa, aku tuh gak ngiklan. Plis deh! Jangan paksa aku untuk memanggilmu chagiya. Aku lebih suka memanggilku Dubu. Dubu. Apa kau tak tahu? Nama itu sangat imut sekali, aku suka…”, kataku dengan ekspresi gemas. “Pokoknya, panggil aku chagi!”, desaknya.

“Dubu!”

“Chagi!”

“Dubu!”

“Chagi!”

“Dubu!”

“Chagi!”

“Dubu!!!!!! Pokoknya titik. Gak ada koma, gak ada enter. Panggilan oppa tetap Dubu!!. Dubu oppa!. ARA???!!!” Yeoja chingu apa aku ini? Masak namchin nya sendiri dibentak? Yang dibentak diem aja lagi! Aduh gaswat nih!? Jangan bilang kalau dia ngambek sekarang. “Aku mau pulang!” Onew beranjak dari kursinya hendak pergi. Tapi aku langsung memegang tangannya. Menahannya agar tak pergi. “Kok pulang sih? Jangan ngambek dong…. Masak namja ngambek?” Yang diajak bicara hanya diam seribu bahasa. Aku berusaha mengeluarkan rayuan mautku. Tapi tidak mempan rupanya. Onew sudah kebal dengan rayuanku. Tidak tahu lagi harus bagaimana, sudah kehabisan akal aku merayunya. Tapi tidak berhasil juga. Aku diam tapi tanganku masih memegang erat tangannya.

 “Chagi, apa benar kau mencintaiku?” dia memulai pembicaraan, setelah tadi diam beberapa saat. Pandangannya entah kemana, yang jelas dia sedang tidak menatapku sekarang. “Musunsuria? Kau meragukanku?”, semburku kesal. “Aku merasa, kau tidak menyukaiku. Hanya aku saja yang mencintaimu. Apa kau pernah bilang cinta padaku, selama 3 bulan ini kita menjalin hubungan?” Onew menatapku kini, meminta jawaban. “Oppa, haruskah mengungkapkan sayang dengan kata-kata? Tidak bisakah hanya dengan tindakan?” aku balas menatapnya dengan wajah memelas. Kemudian dia duduk lagi. Mungkin capek kali berdiri.

Menurutku, oppa sangat aneh hari ini. Permintaannya yang mendadak itu membuatku jadi berpikir. Apakah aku terlalu egois? Apakah aku hanya mementingkan ego? Aku bersikeras tidak mau memanggilnya chagiya. Menurutku pangilan chagiya itu sudah terlalu pasaran. Banyak sejoli-sejoli di kampus memanggil nama pasangan masing-masing dengan sebutan chagiya. Bayangkan, jika ada sepuluh pasangan di suatu tempat yang sama, memanggil masing-masing namchin atau yeochin nya dengan sebutan chagiya? Menurutmu berapa pasangan yang akan keliru? Misalnya nih, salah satu yeoja memanggil namjanya dari jauh. Menurutmu berapa namja yang akan menoleh pada yeoja itu?

Itulah yang aku khawatirkan. Tapi si empunya tampak tak mengerti maksudku. Buktinya dia terus mendesakku untuk memanggilnya chagiya. Padahal aku lebih suka Dubu. Aku juga tidak sembarangan memberinya nama Dubu itu kepadanya. Tentu saja ada artinya. Tapi, oppa tampaknya tak mau tahu alasan kenapa aku memberi panggilan sayang ‘Dubu’ padanya. Malah dibilang ngiklan lagi!? Emang bener sih, Dubu itu merek tofu alias tahu. Hajiman aku tak bermaksud mengejeknya. Dia saja yang salah tafsir.

“Selain tindakan, aku juga perlu kata-kata Nana. Aku takut, aku takut selama ini kita menjalin hubungan hanya lantaran aku memaksamu untuk menjadi yeoja chinguku” Ekspresinya kini ingin membuatku berteriak ‘MAAF!!!!!!’. Aku sungguh tak tega, jika muka oppa memelas seperti ini. “Oppa kata cinta atau suka, menurutku tidak bisa diucapkan sembarangan” Belum selesai aku berbicara, sudah disela olehnya. “Maksudmu, hubungan kita ini hanya main-main begitu? Atau aku sebegitu tak pantasnya mendengar kata suka atau cinta darimu?”, nada bicaranya meninggi.

Aku meraih kedua tangannya dan kugenggam erat di kedua tanganku. Oppa tidak melihatku. Dia melayangkan jauh pandangannya. Aku hanya bisa menyayangkan kenapa sampai bisa ia berpikiran seperti itu. “Bukan begitu oppa. Aku tak pernah berpikir, bahwa hubungan kita ini hanya main-main. Kenapa oppa berpikir separanoid itu? Dan kalau oppa, berkata begitu lagi, akan aku pastikan, neo jugeo!”, kataku agak marah. “Dan mengenai kata suka atau cinta, aku tak ingin mengucapkannya hanya sekedar kau memaksanya. Aku ingin kata itu aku sampaikan padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Pasti akan sangat berbeda rasanya ketimbang mengucapkannya dengan paksaan, aku yakin itu.

Mungkin karena terketuk oleh kata-kataku tadi, dia menoleh dan menatapku kini. Aku masih mengenggam erat kedua tangannya. “Mianhae chagiya. Aku tidak pernah mikir sampek sana”, katanya dengan ekspresi menyesal. Aku hanya bisa tersenyum. “Gwenchana. Tapi, kau jangan pernah meragukanku lagi. Aku itu benar-benar sayang padamu oppa. Hubungan kita ini tak main-main, camkan itu! Kalau sekali lagi kau begitu, akan kugantung kau dipohon toge!”, gurauku. Oppa hanya bisa tersenyum melihat gurauanku. Aku sudah melepaskan genggamanku. Dan duduk berdua sambil berpegangan tangan dengannya. Ah….. kapan lagi bisa begini? Mesra-mesraan.

“Chagi..” Onew memanggilku seperti biasa, dengan sebutan chagi. Tapi kini dia tidak memaksaku untuk memanggilnya demikian. “Ehmm..”, jawabku lalu menoleh padanya. “Kenapa kau memanggilku Dubu?”, tanyanya penasaran. Aku tersenyum menyambut pertanyaannya yang sedari tadi ingin aku beritahukan padanya. Akhirnya namja ini menanyakan juga kenapa aku memanggilnya Dubu. “Oppa, oppa tau kan? Dubu itu apa?”

“Tau! Merek tofu kan? Alias tahu?! Kenapa namanya norak amat sih? Kenapa tidak sekalian ‘hello panda’ saja? ‘hello panda, hello panda, biskuit isi yang enak. Biskuitnya enak biskuitnya lezat, ada coklat dan storberi. Hell—-”

“STOP! Kok Oppa malah ngiklan sih? Pakek isi dance’na segala lagi?”

“Habisnya, kenapa harus nama jelek itu yang kau berikan padaku?!”

Aku tersenyum melihatnya manyun, seperti anak kecil yang ngambek tidak dibelikan lollipop oleh ommanya. Neomu kieyonde…

“Memang benar Dubu itu merek tahu. Hajiman, bukan itu yang aku maksud oppa. Bukan dari segi mereknya yang aku maksudkan. Tapi dari bendanya.”

“Bendanya?”, tanyanya bingung. “Ne… Bendanya itu, ya tahu itu sendiri. Tahu itu lembut. Aku sangat suka tahu. Tahu itu sama seperti hati oppa. Lembut. Bahkan saking lembutnya hati oppa, kau bahkan selalu menurut padaku. Tidak pernah melawan. Tidak pernah marah. Sabar. Kecuali tadi”, aku mencibir. Sekilas, aku melihat kedua pipinya merona kemerahan. Karena malu atau tersanjung, aku tdk tahu. “Walaupun begitu, tidak kah kau tahu, aku jadi bahan ejekan member shinee yang lain. Katanya jadul lah, kuno lah, katroklah, wong deso lah.”

“Oppa, mereka hanya iri padamu. Kau tahu?”

“Puropta? Maldo andwe. Darimana datangnya iri? Apa yang patutnya di irikan? Kurasa tak ada.”

“Mereka iri, karena tak ada yang memanggil mereka dengan sebutan sayang seperti aku padamu dan sebaliknya. Mereka semua kan belum punya yeoja chingu. Jadi lah kau dijadikan bahan lampiasan.”

“Jinja?”, tanyanya dengan wajah yang sangaaaaaaaat polos.

“Tentu saja”

 Tampak puas dengan jawaban yang kuberikan, dia tersenyum. Tanpa ba bi bu, dia langsung mengecup pipi kiriku pelan. Langsung saja jantungku dibuat olahraga, karena kecupannya tadi. Dag dig dug, dag dig dug, gak karuan. “Oppa, lain kali, aku tak akan membiarkan kau mencuri start lagi”, kataku pura-pura marah, sambil memegang pipi yang dikecup olehnya tadi. “Selama masih ada kesempatan, kenapa tidak? Kan sayang?”

“Aish!” Aku berpura-pura hendak memukul kepalanya. Oppa memejamkan kepalanya spontan. Emang siapa yang tega memukul namja manis, cute dan lugu ini. Aku? Ya gak lah. Tepat saat ia memejamkan matanya, aku mengecup bibirnya pelan tapi dengan gerakan yang cepat dan bergumam, “Saranghaeyo Dubu oppa.” Sehabis tindakan nekatku tadi, aku berlari. Malu aku. Masak yeojanya sangat agresif.

Dubu oppa yang masih belum sadar, hanya bisa bengong dan membelalakkan matanya lebar-lebar. “Oppa!!!” Yang dipanggil sontak terkejut. “Jangan bengong mulu entar kesambet!!!”, teriakku dari kejauhan. Kira-kira 30 meter dari tempatnya duduk. “Ya!! yeoja nakal! Jangan lari kau!” Dia beranjak dari kursi dan mulai bergerak mengejarku. Aku yang melihat hal itu berlari pontang-panting tak tentu arah.

Hari ini aku bahagiaaaa sekali. Aku beruntung mempunyai namja chingu yang pengertian, baik, perhatian, sabar, lembut, tidak kasar, perangainya baik dan yang pasti dia cinta plus sayang padaku. Aku pun sebaliknya. Kalau pun aku disuruh milih antara Justin Beiber dan namchin ku, aku akan tetap memilih namchinku. Kenapa? Karena seorang Justin Beiber tidak bisa memberikan rasa sayang dan cintanya padaku sebesar rasa sayang dan cinta yang diberikan oleh namchinku Onew. Plis! Jangan ada yang ngebantah. Walaupun mungkin, kau seorang Beibers sekalipun.

Dubu oppa. Walau banjir, tsunami, badai sekalipun mengguncang Seoul aku akan tetap mencintaimu. Karena kau adalah nafas dan juga jiwaku. Saling berhubungan. Aku tak mungkin bisa hidup sekarang tanpa nafas dan jiwa. Sama artinya dengan aku bukan Kim Nana, jika kau tak ada disampingku Dubu oppa. Dunia terasa tak berarti jika kau tak ada disampingku. Hambar. Seperti sayur sup kekurangan garam. I Love you! Trust me! Saranghae Dubu oppa. Saranghae yongwonhi.

End of Nana pov

THE END(?)

Eits….. ada yang mau lewat….siap-siap……..

Sementara itu…

Di lain tempat, waktu yang sama…

Author Pov

“Chaeri-ya would you be my girlfriend??”

Yeoja yang berdiri tegak memandang datar namja yang bertekuk lutut dihadapannya sambil membawa seratus mawar merah kesukaan yeoja itu, yang dijadikan satu buket tampak memberikan kesan manis dan rapi dari bunga itu. Yeoja itu Chaeri. Kim Chaeri, yeoja yang sedari zaman batu(?) sudah disukai oleh namja manis nan imut yang bernama Kyuhyun, lengkapnya Cho Kyuhyun.

Saat ini, mereka tengah ditatap oleh puluhan mata pengunjung café Latte, café milik Kyuhyun. Kyuhyun dengan lantangnya, memberanikan diri dihadapan halayak ramai, mendeklarasikan perasaannya kepada Kim Chaeri tanpa terbesit rasa malu sedikit pun. Rasa malunya sudah dia kubur dalam-dalam, hanya demi seorang Kim Chaeri.

“Otheo?? Kau mau menjadi yeojachinguku kan Kim Chaeri?? Cepatlah jawab. Kakiku sudah pegal, kelamaan berlutut. Dan setidaknya, ambillah bunga mawar ditanganku ini, biarkan aku berdiri”

Chaeri meraih bunga mawar yang ada di tangan Kyuhyun, seketika Kyuhyun tersenyum. Hatinya merasa seperti musim semi, ditumbuhi bunga-bunga eidelweis yang banyak jumlahnya.

“Kalau kau memang tidak bisa romantis, jangan mencoba untuk bertindak romantis. Bikin malu saja” cibir Chaeri, yang seketika membuat seluruh pengunjung café Latte tertawa masem-masem, tapi tidak untuk Kyuhyun. Mukanya merah padam, tindakan Chaeri sudah membuatnya ingin bunuh diri saja di pohon tomat. Kalau dia bukan ‘KIM CHAERI’, yeoja yang disukainya, sudah dapat dipastikan orang yang mempermalukannya saat ini sudah berada di neraka tingkat 7.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Chaeri sendiri juga menyukai namja yang ada dihadapannya kini. Cuma dia agak sedikit gengsi. Biasa, yeoja selalu gengsi.

“Terima”

“Terima”

“Terima”

Suara seruan pengunjung, membahana diseluruh pelosok café Latte ini. Mereka menyuruh Chaeri untuk menerima permintaan Kyuhyun yang menyuruh dirinya untuk jadi pacarnya. Membuat Kyuhyun seperti mendapat suntikan semangat, dan percaya dirinya langsung naik drastis langsung keubun-ubun.

“Baiklah, baiklah. Aku akan menerima dia jadi pacarku. Tapi… dengan satu syarat” ucap Chaeri lantang. Seketika Kyuhyun yang tadinya ingin tersenyum kegirangan karena pernyataan cintanya diterima, langsung kembali murung karena mendengar kata ‘syarat’ dari bibir seorang Kim Chaeri. ‘Pasti syaratnya tak mudah. Duh, kenapa perasaanku tak enak?’ pikir Kyuhyun dalam hati.

“Apapun akan kulakukan untuk yeoja yang kusukai”

“Cieeeee” sahut pengunjung café serentak

Sebenarnya dalam hati, Kyuhyun was-was. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Tenang adalah salah satu cara untuk bisa menghadapi masalah dengan lancar walaupun masalah itu beratnya minta ampun. Tapi selama kita berpikir positif dan tidak mengikuti nafsu, kurasa kita bisa melewati masalah itu dengan baik.

“Baiklah, kalau kau sudah berkata seperti itu. Kau baru bisa menjadi pacarku, jika… jika… kau mau melayani pengunjung yang datang ke cafe selama 3 jam, dengan memakai itu” ucap Chaerin sambil menunjuk pakaian maid yeoja, salah satu pegawai Kyuhyun, yang membuat mata Kyuhuyn seketika melebar besar. Kaget.

“Mwo????”

“Kenapa? Tidak mau?”

Aigo~~ yang benar saja mana ada namja mau memakai pakaian maid perempuan selama 3 jam lamanya hanya untuk menerima persyaratan yang tidak masuk akal dari seorang Kim Chaeri! Benar-benar keterlaluan yeoja satu ini.

“Kim Chaeri! Yang benar saja! Kau menyuruhku memakai pakaian maid?? Oh jjinja.. tak ada persyaratan yang lebih tidak masuk akal lagi?? Kenapa tidak sekalian saja kau suruh aku memakai pakaian itu keliling Seoul?”

“oh! Itu ide yang bagus kukira. Kau sangat pintar Cho Kyuhyun!! Bagus, bagus!”

“Mwo? Aku Cuma bercanda KIM CHAERI!!”

“Kekeke… jadi kau tak mau? Ya sudah…” Chaeri hendak pergi meninggalkan café, tapi tertahan karena tangan Kyuhyun mencengkram pergelangan tangan kanan Chaeri erat. Seyum puas tampak tak bisa lagi disembunyikan dibibir tipis Chaeri. Mengerjai seorang Cho Kyuhyun sangat mengasikkan.

“Baiklah aku mau. Tapi di dalam café ini saja! Tidak keliling Seoul!!”

“Kekeke. Arrayeo. Aku masih punya hati Cho Kyuhyun. Ya sudah cepat sana ganti baju mu!”

Kyuhyun mencoba mengeluarkan serangan mata anak anjingnya ke Chaeri. Tapi…

“Cho Kyuhyun! Puppy eyes mu sangat tidak berpengaruh untukku. Jadi, sekarang ganti bajumu! Atau aku pergi!?” ancam Chaeri. Kyuhyun pasrah, sudah tak ada kesempatan lagi untuk mengelak dari ‘Ratu iblis tingkat dewa’ seperti Kim Chaeri. Muka kyuhyun pucat pasi, siap-siap saja dia jadi bahan tertawaan satu pengunjung café.

Tampaknya hari-hari bersama Kim chaeri akan sangat melelahkan dan menakutkan. Berpacaran dengan yeoja evil? Oh no…. kekerasan dalam ‘berpacaran’ akan lebih sering terjadi. Semangat aja deh buat Kyu oppa. Mudah-mudahan betah sama yeoja evil kayak Kim Chaeri#author ditampar Chaeri#

NAH, SEKARANG BENER-BENER END!

 

Gimana readers sekalian? Ditunggu kritik dan sarannya, gumawooo J

Chapter sebelumnya : Part 1 Part 2(End)

Iklan

4 respons untuk ‘I love U! Trust Me!

  1. hello panda.. untung gak kungfu panda…

    Kira-kira 300 meter dari tempatnya duduk. — hah? jauh amat yak?

    itu kejar2an d tmn brsa kyk india…

    hahaha

    oh dubu oppaku *cipok jinki*

  2. baca ff ini jadi ketawa ketawa sendiri 😀
    Aku dh berulang ulang baca.a tapi tetep aja gak bosen …
    Ff.a bagus eon … Bikin ff lagi eon yg banyak nnti aku baca 😀

    Hehehehe :p

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s