LOVE PAIN

Title : Love Pain

Author : Park SojinKey

Cast : Choi Minho, Kim Jonghyun, Jung Taerin

Support Cast : Jung sooyeong

Lenght : Drable

Rating : G

Genre : Angst, Hurt, Sad romance

Note: cieeee… author coba-coba buah pinang bikin ff galau. Moga-moga dapet feelnya… dan tumben nih author bawa castnya Minho oppa ama Abang Dino.. maaf kalau ancur..  di comment doong ~.^

 

 

Pernahkan seseorang menanyakan pertanyaan seperti ini kepada kalian

‘antara mencintai dan dicintai yang mana yang akan kalian pilih?’

Aku tau sebagian besar dari kalian pasti akan menjawab lebih baik dicintai dari pada mencintai. Pasti begitu kan?

Tapi taukah kalian.. mencintai dan dicintai itu sama-sama menyakitkan…

“Jjong oppa~ chukae. Kau benar-benar tampan dengan tuxedo putih itu.”

Dia tersenyum. Bahagia. Sangat bahagia. Dia masih saja bercermin di kaca besar itu. Sesekali memperbaiki rambutnya nya yang agak berantakan. Kau bahagia? Aku tidak oppa.. aku sangat tersiksa melihatmu bersanding dengan wanita lain

Dadaku sesak. Sesak sekali rasanya melihat namja yang aku cintai kini malah menikah dengan eonie ku sendiri. Mereka saling mencintai. Aku tau. Lalu aku harus bagaimana?

“Oppa, sebaiknya kau berhenti bercermin. Ketampananmu bisa hilang.”

“Tidak mungkin hanya karena berlama-lama berkaca di cermin membuat ketempanan seseorang hilang” dia tersenyum. Memencet hidungku gemas.

Jangan membuatku jatuh cinta lebih dalam kepadamu oppa. Tidak bisakah kau membenciku? Benci aku. Tolong benci aku. Buat aku supaya tidak mencintaimu lagi. Bagaimana kalau aku saja yang belajar membencimu? Belajar membencimu? Kalian pikir kenapa aku memohon-mohon padanya untuk membenciku? Sudah jelas jawabannya, karena aku tidak bisa membencinya…

“Saudara Kim Jonghyun, apakah anda bersedia menerima saudari Jung sooyeong dalam sedih, senang maupun duka” tanya Bapa pendeta kepada orang yang aku cintai

“Aku bersedia” jawabnya lantang

“Saudari Jung sooyeong, apakah anda bersedia menerima saudara Kim Jonghyun dalam sedih, senang, maupun duka” tanya Bapa pendeta selanjutnya kepada eonieku.

“Aku bersedia” jawabnya gugup

Dan.. mereka pun saling berciuman. Aku yang duduk di kursi tamu, disebelah omma dan appaku, melihat mereka dengan hati miris. Masih berusaha mengumbar senyum. Bertepuk tangan. Bercucuran airmata. Terharu? Tidak. Hatiku sesak, pedih, perih. Sudah habis kata-kata aku mengekspresikan perasaanku sekarang. Kesimpulannya hatiku hancur tak bersisa.

Tawa dan senyum tampak tak lepas dari bibirmu oppa. Apa kau bahagia? Apa kau benar-benar sangat mencintai eonie? Bolehkan aku bermimpi untuk menggantikan posisi eonie berada disisimu? Hanya bermimpi saja oppa. Tidak nyata. Boleh? Membayangkan senyum itu hanya untukku. Tawa itu hanya untukku. Belaian lembut tanganmu hanya untukku. Ungkapan cinta, sayang dan rindumu hanya untukku. Dan ciuman dari bibirmu hanya untukku. Bolehkah??

“Eonie.. chukaeyo” ucapku pada eonie. Setelah pemberkatan itu, tamu para undangan datang memberi mereka selamat. Eonie tampak sangat cantik dengan gaun pengantin putih tanpa lengan. Sangat cocok di tubuhnya. Bagaimana jika aku memakai gaun ini? Apa akan terlihat cantik seperti ini?

“Oppa! Kau harus jaga eonie ku dengan baik ‘o’?”

“Pasti dongsaengku yang cantik”

Dongsaeng? Aku benci panggilan itu. Aku lebih suka kau memanggilku dengan namaku. Bukan dongsaeng seperti yang kau katakan tadi. Kau memanggilku begitu, seakan membangunkanku dari mimipi indah. Kembali pada dunia nyata. Bahwa kita sekarang sudah memiliki ikatan keluarga. Kau kakak iparku. Kakak ipar, orang yang sangat aku cintai. Apa kau tau hal ini?

“Jung Taerin” seseorang memanggil namaku.

Minho?

Hatiku mencelos lagi. Namja ini.. kenapa dia tersenyum seperti itu? Bahagiakah? Choi Minho.. Jeongmal mianhae. Aku memang yeoja yang buruk.

Minho datang dengan sejuta senyum mengembang diwajahnya. Menyelamati kedua mempelai yang baru saja beberapa menit yang lalu resmi secara agama menjadi suami istri. Dengan Bapa pendeta, para tamu, dan gereja besar ini sebagai saksinya.

“Selamat ya Hyung” Mereka berpelukan layaknya saudara kandung. Saling menepuk punggung. Aku.. aku tidak tau harus melakukan apa. Tersenyum? Bolehkah? Pura-pura tidak tau? Bolehkah? Aku menyakiti hati Minho lagi dan lagi.. jeongmal mianhae Minho-ya..

“Selamat ya Noona” Kini dia memberi selamat untuk eonieku. Hanya saling bersalaman saja.

“Taerin-ah.. aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ikut aku” ujar Minho masih dengan senyuman.

Aku tahu Minho-ya, sebenarnya hatimu sakit kan? Terluka kan? Kenapa tidak membenciku saja? Aku benar-benar yeoja yang tidak pantas mendapat cinta dari seseorang yang baik, dan lembut seperti dirimu Minho-ya.. aku mohon jangan tersenyum seperti itu. Membuatku menyadari bahwa aku benar-benar yeoja yang amat sangat jahat.

Minho mengajakku keluar dari gereja. Menggandeng tanganku lembut. Dia menuntunku duduk di sebuah bangku bercat putih. Sebuah taman yang berada beberapa blok dari gereja. Sepi. Hanya suara kicauan burung yang terdengar.

“Taerin-ah.. rasa itu… rasa itu masih adakah?”

Minho kenapa kau menanyakan itu? Kau pasti tau.. kenapa kau tanyakan lagi? Jeongmal mianhe Minho-ya.. mianhae…

Aku diam. Tidak tau harus menjawab apa. Apa yang sebenarnya harus aku jawab? Aku sama sekali tidak bisa berpikir. Aku menunduk. Menyesali keadaan. Kenapa kami harus bertemu? Pertemuanku dengannya telah membuatnya sakit. Aku menyakiti orang yang tulus mencintaiku. Aku menyakiti orang yang tulus menyayangiku. Aku menyakiti orang yang tulus menerimaku apa adanya. Aku menyakitinya… aku tidak bisa membalas perasaannya padaku…

Minho tampak mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.. sebuah kotak persegi kecil berwarna merah hati…. Cincin?

Minho beranjak dari duduknya. Berlutut dihadapanku. Jangan Minho-ya. Aku mohon jangan… jangan lakukan itu. Hatiku sangat perih melihat kau seperti ini.

“Taerin-ah… aku mohon, menikahlah denganku” ucapnya

“Tapi Minho-ya—-“

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli, jika rasa itu masih ada. Itu tidak masalah untukku”

“…….”

“Yang terpenting, kau selalu berada disampingku. Itu sudah cukup untukku Taerin-ah”

Aku menggeleng lemah. Air mata sudah tumpah menyeruah mengalir dipipi. Kenapa? Kenapa harus ada namja sebaik dirimu Minho-ya. kenapa kau masih saja bisa mencintaiku? Kenapa?

Aku meninggalkan Minho yang masih berlutut lemah. Aku berlari. Air mata tak segan-segan sudah membuat penglihatanku buram. Kenapa seperti ini jadinya? Kenapa kami berdua harus tersakiti seperti ini?

Tin Tiiiiin Tiiiiiiin.. Ckiiiiiiiiittttt…. Braaakkk!!

Apa ini?

Kenapa tubuhku seakan remuk?

Sakit…

Tubuhku terasa terpental jauh…

Sebenarnya aku kenapa?

“TAERIN-AH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Seseorang mendekapku erat. Mengguncang-guncang tubuhku keras. Kenapa aku bisa tertidur di aspal seperti ini? Aku membuka mataku perlahan. Minho? Kau kenapa Minho-ya? Wae ulloyo??

“Taerin-ah!! jebal! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Aku mohon…..” Minho menangis tersedu sedu. Terus mengguncang-guncang tubuhku..

“Uhuk ! uhuk ! uhuk!” aku terbatuk keras. Apa ini? Cairan merah pekat yang keluar dari mulutku ini mengotori dress putihku. Darah?

Hujan membasahi jalanan Seoul. Begitu pun kami… aku menyadari. Aku baru saja tertabrak.. Sebuah mobil. Dan pengendara mobil itu melarikan diri..

Minho membopongku kedekapannya. Kau akan membawaku kemana Minho-ya? Berhentilah menangis. Sungguh sangat sia-sia air matamu itu. Jangan menangis hanya gara-gara yeoja napeun sepertiku. Sangat tidak pantas.

“Bertahanlah Taerin-ah.. sebentar lagi kita akan kerumah sakit”

Rumah sakit?

Aku tidak yakin..

“Min—Minh—Minho-yah…” panggilku dengan susah payah

Aku tersenyum. Kenapa aku merasa, senyum yang kuumbar padanya sekarang adalah senyum terbaik yang pernah aku milki?

Aku berusaha menggapai pipinya. Tanganku bergetar. Kusentuh pipi tirusnya pelan. Kenapa kau terlihat begitu kurus Minho-ya? Matanya masih saja mengeluarkan air. Sesenggukan menatapku.

“Minho-ya… jeongmal mi—mianhae…”

Tanganku lemas. Jatuh begitu saja.

Gelap

Sakit yang bertubi-tubi kurasakan tadi.. seperti terlepas dari tubuhku

Tubuhku terasa ringan.. seperti tanpa beban

Kosong.. perasaan sesak tadi sudah tidak ada. Perasaan bersalah tadi sudah tidak ada.. kemana?

Kubuka mata perlahan. Dimana ini? Teduh.. apa aku berada di surga?

Anak-anak kecil? Mereka terlihat sedang bercanda. Taertawa riang..

“Selamat datang. Kami keluarga barumu sekarang” ucap seseorang dibelakangku. Namja berkulit putih dan tinggi. Senyumnya pun sangat menawan. Sepertinya umurnya sama denganku..

“Apa aku sudah mati?” tanyaku

Dia hanya tersenyum. Mengamit tanganku. Membawaku ke tempat anak-anak kecil yang sedang bermain riang tadi.

Berarti benar.. aku sudah mati….. jiwaku seperti terbang bebas begitu dia memegang tanganku erat. Ringan.. seperti tidak pernah kenal dengan yang namanya masalah..

Tapi…..

Siapa aku?

Aku seperti melupakan sesuatu?

Jika seseorang bertanya kepada kalian..

‘antara mencintai dan dicintai yang mana yang akan kalian pilih?’

Janganlah memilih diantara keduanya. Hanya mencintai tidak dicintai.. sakit. Hanya dicintai tapi tidak mencintai..sakit.

‘antara mencintai dan dicintai yang mana yang akan kalian pilih?’

‘aku tidak memilih diantara keduanya. Karena masih ada jawaban yang lebih baik dari itu.. jawaban yang akan membuat kita sama-sama bahagia.. sama-sama mengetahui rasa sayang sebenarnya..

Saling mencintai……..’

yee… akhirnya#ngelap keringet# monggo di comment 🙂

aku butuh nafas readers nih~~#ah! lebay loe thor!

Iklan

7 respons untuk ‘LOVE PAIN

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s