My Photophobia, Make Me Meet You


Title : my photophobia, make me meet you

Author : Park SojinKey

Cast : Choi Minho, Kim Rinmi

Support Cast : you will be know soon.. just read it#uwaaaa.. gaya authornya sok english. Padahal aslinya, kagak bisa bahsa inggris J

Lenght : oneshot

Rating : G

Genre : Au, Romance

 

Author balik bawa ff’a abang Minong yang baru nih…

Mudah-mudahan berkenan di hati readers sekalian…

Maaf banyak miss typos, atau apapun lah

Monggo ayo dibaca J

Tolong di comment ok? I need a comment 

Rinmi POV

Photophobia. Apa yang kalian pikirkan setelah kalian mendengar satu kata itu. Bingung? Satu kata itu tentunya asing ditelinga kalian. Dulu. Aku juga seperti itu. Tapi setelah seseorang berjubah putih polos memberitauku apa itu photophobia, ingin rasanya aku lenyap sekarang juga dari bumi ini.

Phobia? Apa phobia sama artinya dengan takut? Bukan. Mereka berbeda. Takut. Ketika kalian takut, kalian akan berusaha melindungi diri. Tapi jika kalian phobia, rasa takut tersebut akan menguasai dan rasanya kalian tidak akan bisa melindungi diri karena menjadi kalut dan lemah. Dan pertanyaannya sekarang, kenapa aku membicarakan ini? Photophobia.. sebenarnya apa itu photophobia? Bohong. Aku membohongi diriku sendiri. Photophobia. Sebenarnya aku tau itu apa. aku hanya egois. Egois tidak ingin mengakui kalau photophobiaku ini benar-benar membuat masa depanku hancur. Phobia yang benar-benar membuatku terpuruk sedemikian dalamnya.

“Tidurlah sayang. Nanti saat makan malam tiba, Omma akan membangunkanmu” Omma membelai rambutku. Aku tersenyum. Mencoba memejamkan kedua kelopak mataku agar terlelap. Hidup dengan tidak normal seperti ini selama 15 tahun, sedikit banyak sudah membuatku terbiasa untuk tidur di siang hari dan bangun di malam hari.

Kadang-kadang aku tersenyum miris. Sekarang, cara hidupku sama seperti kelelawar. Pasif di siang hari. Aktif di malam hari. Aku ingin menikmati bagaimana rasanya berjalan-jalan dengan senyum lebar menghias wajah bersama teman-teman. Teman-teman? Bahkan aku lupa, aku tidak mempunyai teman sama sekali. Jangankan teman. Bersekolah saja aku tidak tau rasanya bagaimana.

***

Malam hari. Ini waktuku. Seperti biasa, tepat jam 7 malam aku keluar rumah. Menikmati udara malam yang begitu dingin. Tapi aku menikmati ini.

“Ajumma…”

“Rinmi-ah… neo wasseo? Duduk. Ajjumma akan segera buatkan mie hitam kesukaanmu.” Orang yang kupanggil ajumma itu tersenyum.

Kedai mie hitam dekat rumah, menjadi tempat persinggahanku setiap hari. Bosan? Tidak. Lagi-lagi aku menikmati ini. Ajumma baik padaku. Ajumma begitu perhatian padaku. Ajumma tau persis kondisiku seperti apa. Berlangganan selama tujuh tahun di kedai ini, membuat ajumma sudah seperti ommaku sendiri.

“Mie hitam kesukaanmu sudah datang.” Ajumma meletakkan mie itu dihadapanku. Aku tersenyum. Seperti biasa, aku tidak pernah bosan menikmati  mie hitam. Mengaduk-aduknya. Aku sangat menikmati saat-saat ini.

“Mani moggo.” Ajumma mengusap pelan rambutku. Kemudian ajumma kembali menjaga kedainya. Seseorang dengan memakai topi hitam, tengah memesan mie hitam ke ajjumma. Kenapa rasanya namja ini, selalu datang kemari? Aish! Aku begitu pabbo! Sudah tentu itu pasti pelanggan ajjumma. Dia sering kemari sudah barang tentu menyukai mie hitam buatan ajumma. Aku benar-benar bodoh berpikiran kalau namja itu sering kemari gara-gara aku sering membeli mie hitam disini. Dari mana aku mendapatkan kepercayaan yang tinggi seperti itu?

Author POV

Rinmi kembali memfokuskan matanya pada mie hitam yang sudah diaduk-aduknya begitu lama. Bersiap memakannya. Rinmi tidak tau. Disaat dia fokus memakan mie hitamnya, seseorang tengah memperhatikannya. Orang itu tersenyum melihat cara Rinmi makan. Dimatanya, cara Rinmi memakan mie hitamnya sungguh mempesona.

Walaupun pada kenyataannya, Rinmi memakan mie hitamnya sungguh sangat tergesa-gesa dan amat sangat rakus. Bagi orang yang tidak mengetahui kebenarannya, wajar akan menganggap Rinmi rakus. Tapi bagi orang-orang yang tau akan kondisinya, pasti akan sangat prihatin akan kondisi Rinmi. Disaat malam seperti ini saja dia bisa menikmati mie hitamnya dengan lahap. Tapi disaat siang datang, dia akan terkurung kembali dengan yang namanya ketakutan yang kalut. Takut. Seakan-akan matahari akan melahapnya dan membuat tubuhnya panas karena terbakar.

“Minho. Ini 5 mie hitam yang kau pesan. Semuanya 15000 won.” Teguran ajumma penjual mie, sontak membuat namja yang sedari tadi memperhatikan yeoja yang sedang memakan mie hitamnya dengan lahap tersentak agak kaget.

“Ah.. ne. 15000 won? Ah.. igo ajumma gumawo” ucap namja itu menyerahkan uang 15000 wonnya ke si ajumma. Sungguh berat hati batin dan raganya meninggalkan tempat ini. Kedai mie hitam adalah satu-satunya tempat yang bisa mempertemukan namja ini dengan yeoja cantik yang ada dihadapannya. Hanya pada waktu malam hari saja dia dapat bertemu dengan gadis pujaannya itu. Waktunya di pagi sampai siang hari, dia begitu sibuk sehingga dia tidak bisa bertemu dengan gadis pujaannya.

Untuk terakhir kalinya sebelum namja itu benar-benar meninggalkan kedai mie hitam itu, namja tinggi bertopi hitam itu melihat gadisnya yang masih tetap memakan mie hitamnya dengan lahap. Tampak tidak terganggu samasekali dengan situasi sekitar. Padahal dirinya memperhatikan gadis itu sedari tadi, tapi sepertinya gadis itu tidak menyadari.

“Ish! Kenapa semua mendadak ingin makan mie hitam? Kenapa tidak pergi bersama-sama saja makan di kedai ajumma. Dengan begitu, aku jadi bisa menikmati wajahnya lebih lama menikmati mie hitam kesukaannya kan? Dengan terpaksa sekarang aku harus membungkusnya. Membawa mie hitam ini ke dorm. Sial!” Namja itu mengomel. Masih memakai topinya dengan erat. Menutupi wajahnya. Takut seseorang akan menyadari kalau dia sebenarnya seorang artis.

Namja itu masih tak usai-usainya mengomel. Berjalan dalam gelapnya malam, tidak sedikitpun membuat namja itu takut. Dia berjalan dengan malas. Kadang-kadang dia berhenti melangkah begitu lama. Hatinya menjerit. Hatinya ingin kembali lagi datang ke kedai ajumma itu, lalu kembali menikmati wajah gadis pujaannya yang catik itu.

“Omo! Bahkan namanya saja aku tidak tau. Aku terlalu pengecut untuk mengajaknya berkenalan.” Ujar namja itu lagi.

Dia tidak menyadari sesuatu terjatuh dari saku belakang celana jinsnya. Tapi seseorang dibelakangnya, -yang sedari tadi tersenyum geli melihat namja didepannya ini mengomel sendiri- menyadari itu. Sebuah dompet -yang entah bagaimana caranya bisa terjatuh dari saku belakang celana jinsnya- sudah tergeletak begitu saja di atas aspal.

Rinmi POV

“Chogiyo.. ajussi!” panggilku pada namja yang sudah berjalan beberapa ratus meter didepanku. Namja itu berbalik. Omo. Sepertinya aku sudah salah memanggilnya ajussi. Dia masih tampak muda. Dia memang melihatku sekarang. Tapi kenapa dia tidak menghampiriku? Atau mengucapkan sekedar kata ‘ne’ tidak bisa? Dia tampak kaget.. Aku berinisiatif sendiri menghampirinya. Kulihat dia masih saja berdiri mematung. Begitu aku ada dihadapannya, aku sadar namja ini sungguh sangat tinggi dan tampan. Bisa kulihat kedua bola mata hitamnya yang memandangku lekat. Sepertinya aku tau dia. Tapi siapa?

“Ehm.. maaf. Dompetmu terjatuh.” Kusodorkan dompet itu padanya.

“Maaf tuan, ini dompetmu aku kembalikan. Dompetmu terjatuh tadi” ulangku. Dia tampak tersentak kaget. Menerima dompet yang tadi ada ditanganku. Dia tersenyum. Kuakui senyumnya memang sungguh memesona. Aku tersenyum. Beranjak pergi lebih dulu. Sepertinya arah tujuan kami sama. Tapi biarlah. Namja itu kenapa masih saja mematung seperti itu. Membuatku berpikiran yang tidak-tidak.

“Ah! Agashi!” panggilnya. Menyusulku. Kami berjalan berdampingan.

“Gomawo” katanya. Kubalas dengan melempar senyum kearahnya dengan ditambah dengan anggukan kecil.

“Perkenalkan. Namaku Choi Minho.” Tiba-tiba saja namja didepanku ini mengulurkan sebelah tangannya padaku. Membuat langkah kami otomatis terhenti. Namja ini mengajakku berkenalan? Apa tidak salah? Tapi tak apalah…

“Namaku Kim Rinmi.” Ujarku sambil menyambut uluran tangannya. Dia tampak tersenyum puas dan amat sangat senang sekali. Terlihat sangat antusias dan mata belonya membuat namja ini sungguh kekanakan. Aku suka.

***

Minho POV

“Hyung! Ayo kita duel WE lagi” tantang Taemin padaku.

“Shiro. Pasti nanti kau juga akan kalah” ejekku.

“Tidak hyung! Aku pasti tidak akan kalah kali ini! Aku jamin” paksa Taemin lagi. Aku sungguh tidak mood untuk bermain PS hari ini. Padahal aku tergolong maniac game. Walau tidak sesejati Kyuhyun hyung. Tuhan baik padaku hari ini. Tidak bisa menikmati wajahnya yang sedang makan mie hitam, tapi kejadian hari ini membuat aku berkenalan dengannya. Yes! Akhirnya, aku tau siapa nama yeoja itu! Kim Rinmi. Sungguh yeoja yang sangat cantik.

“Hyung! Kau kenapa senyam senyum seperti itu? Obatmu habis hyung? Apa perlu kubelikan ke apotik”

Bug!

“AW!”

Lemparan bantal sofa tepat mengenai wajah baby Taemin yang sungguh cerewet sejak tadi. Mengganguku saja. Apa dia tidak tau, kalau aku sedang memikirkan yeoja pujaanku? Aku bangkit dari sofa. Menuju kamar. Ya Tuhan…. Mudah-mudahan aku memimpikannya hari ini.

Baru saja mataku hendak terpejam. Tapi seseorang menaiki kasurku. Membuat tubuhku sedikit terguncang.

“Hyung~ ayo kita main PS” Ish! Ternyata Taemin. Menggangu saja bocah ini.

“Tidurlah Taemin. Besok kita masih ada jadwal.” Kataku mencoba sabar

“Hyung lupa? Besok kita free hyung.”

“MWO???”

“Wae wae wae???? Dasar Hyung KamSeUPay~”

Masa bodoh dengan ejekannya. Apa itu KamSeUPay?? Besok free. Aku benar-benar lupa. Jadi besok aku bisa melihatnya memakan mie hitam di siang hari? Benar-benar tidak sabar menanti hari esok tiba. Aku kembali menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhku dan bergegas tidur. Masih bisa kudengar Taemin berteriak-teriak memanggil-manggil namaku. Ah… masa bodoh. Mianhae Taeminie~ hatiku yang 100% bahagia ini terlalu disayangkan untuk dibuang percuma dengan bermain PS bersamamu. Lebih baik aku menikmati ini. Mumpung rasa bahagia itu masih menggebu-gebu..

***

Author POV

Waktu free yang didapatkan Minho kali ini sepertinya tak sesuai keinginan. Seperti rencana kemarin, Minho ingin menemui yeoja yang disukainya di tempat kedai mie hitam ajumma langganannya. Tapi sungguh kecewa yang dia dapat. Dari kedai mie hitam ajumma itu buka, sampai sore hari menjelang sampai sekarang, yeoja itu, Kim Rinmi sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. waktu liburnya yang berharga terbuang begitu saja, hanya demi dapat bertemu dengan yeoja itu.

“Haaah.. Rinmi-ah. Sebenarnya kau dimana?” Minho mendesah pelan.

Minho masih berada di kedai mie hitam langganannya. Duduk termenung, membiarkan mie hitamnya mendingin karena sudah ia biarkan sedari tadi tanpa ada niat untuk memakannya. Bukan dia tidak suka. Bukan. Hanya saja, dia tidak ada selera untuk memakannya. Pikirannya terlalu lelah. Memikirkan nasib dirinya, yang sedari tadi berusaha bertemu dengan gadis yang disukainya, tapi Tuhan tidak mempertemukan mereka juga.

Malam tiba tanpa Minho sadari. Minho mengeratkan topi yang sedari tadi ia pakai. Menyembunyikan wajahnya, agar orang-orang tidak banyak menyadari siapa dia sebenarnya. Ia masih tetap berada di kedai mie hitam langganannya. Hanya mengaduk-ngaduk mie hitamnya malas.

Ajumma pemilik kedai pun heran melihat Minho yang sedari tadi hanya mendesah. Dengan memanfaatkan kedainya yang kelihatan sepi, ajumma itu menghampiri Minho yang duduk termenung. Duduk di depan Minho. Awalnya Minho tidak ngeh bahwa ada orang yang baru saja duduk di depannya. Tapi panggilan ajumma itu, sontak membuat Minho sadar.

“Ajumma, kau mengagetkanku.” Ujar Minho

Ajumma itu tersenyum. Ajumma itu tau siapa sebenarnya orang yang ada didepannya ini. Ajumma itu seorang shawol, wajar dia mengenal idolanya. Selain itu Minho juga sudah menjadi langganannya sudah sejak lama.

“Waeyo Minho-ya? Dari tadi aku perhatikan, kau hanya mendesah mendesah dan mendesah. Bahkan sudah dari tadi sore kau disini. Sekarang sudah malam. Apa kau menunggu seseorang? Yeoja mungkin?” tebak ajumma. Dengan sedikit mencolek dagu Minho. Menggodanya. Dan tebak.. wajah Minho langsung memerah. Bukan karena dagunya dicolek ajumma itu. Tapi karena ajumma itu tau. Dia sedang menunggu seorang yeoja. Itu membuatnya sedikit merasa tersipu.

Minho hanya tersenyum cengengesan. Menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali.

“Hehehe…” kekeh Minho

“Apa yeoja itu Kim Rinmi?” tebak ajumma lagi. Seketika mata Minho yang belo lebar itu, makin melebar mendengar tebakan ajumma barusan. “Bagaimana ajumma tau?” tanya Minho. Mengguncang tangan ajumma dengan mata tetap membelo lebar. Ajumma itu tersenyum.

“Minho-ya, sebaiknya jika kau ingin bertemu dengannya, tidak di waktu pagi dan siang hari. Temuilah dia disini, dimalam hari pada jam 7 malam.” Kata Ajumma itu ke Minho. Belum sempat Minho bertanya lebih lanjut tentang perkataan ajumma itu, ajumma lebih dulu beranjak dari duduknya karena ada seorang pelanggan yang membeli mie hitamnya.

‘Tidak diwaktu di pagi dan siang hari? Dimalam hari jam 7 malam? Ada apa sebenarnya?’ pikir Minho dalam hati. Ia lalu melihat jam arloji yang melingkar di tangan kirinya. Jam 6.30. Masih ada tiga puluh menit lagi menuju jam tujuh tepat. Dia akan menunggu. Apa benar yang dikatakan ajumma itu? Bahwa yeoja yang disukainya akan datang tepat jam tujuh malam?

Rinmi POV

Seperti biasa. Tepat jam tujuh malam aku sampai di kedai ajumma. Oh~ kedai ajumma terlihat ramai. Kulihat sekeliling meja penuh dengan pasangan. Eh.. tunggu dulu. Itu ada satu orang yang duduk sendiri. Apa aku boleh duduk disana ya?

“Ajumma..” panggilku

“Oh Rinmi-ah. Duduk dulu. Ajumma akan buatkan mie hitamnya. Tunggu sebentar ‘o’?” Aku mengangguk. Uh~ tumben kedai ajumma ramai di jam segini.

“Silyehamnida, bolehkan aku ikut duduk disini?”

Dia mendongak, lalu tersenyum.

“Oh! Minho-ssi?” gumamku pelan, setengah berbisik.  Namja ini, namja yang kutemui kemarin. Yang mengajakku berkenalan kemarin. Senyumnya masih terukir manis dibibir. Pantas saja aku merasa pernah bertemu dengan namja ini. Ternyata dia pelanggan ajumma! Penampilannya pun sama. Selalu memakai topi. Tapi topinya tidak sedikitpun memudarkan wajah tampannya. Omo~ apa yang aku katakan?

“Duduk” suruhnya.

Aku tersenyum. Mengambil posisi duduk didepannya. “Oh.. gumawo Min—eph!“ Minho dengan sebelah tangannya membekap mulutku erat. Aku melotot kaget begitu dia tiba-tiba membekap mulutku. Tubuhku kaku. Melihat bola matanya yang memandangku. Untuk beberapa saat. Kami masih tetap dalam posisi ini. Entah tersirat apa dari bola matanya. Matanya menatapku teduh dan hangat. Sampai, suara ajumma yang mengantarkan mie hitam pesananku mengembalikan kami pada situasi semula.

“E-hem.. mesra sekali.” Ajumma berkedip kearah kami. Ditaruhnya mie hitam pesananku dihadapanku.

“Ajumma~” aku mengerucutkan bibir. Kesal? Bukan. Bukan kesal. Aku hanya malu saja pada Minho. Aku merasa tidak enak padanya. Ajumma memang suka menggodaku. Kulirik Minho juga tersenyum. Ajumma seperti biasa mengusap rambutku. Meninggalkan kami, kembali menjaga kedai. Kuaduk mie hitamku dengan antusias. Kulihat semangkuk mie hitam juga tergeletak manis didepan Minho. Dan sepertinya sudah dingin.

“Min—“

“Sssstttt” Minho menempelkan jari telunjuknya dibibirku. Membuatku berhenti bicara. Kenapa? Kenapa setiap aku ingin mengucapkan namanya, dia selalu memberikan respon-respon yang aneh?

“Jangan keras-keras memanggil namaku. Nanti bisa ketahuan” ucapnya lagi. Ketahuan? Ketahuan apa? dia kenapa? Ah! Aku bingung.

“Kenapa?” tanyaku cengo. Aku benar-benar tidak mengerti. Membuatku bingung saja si Minho ini.

“Mwo? Kenapa??” katanya kaget. Matanya lucu. Matanya yang sudah lebar itu, jadi tambah lebar. Membuatku gemas saja. Bolehkan aku mencubit pipinya? Astaga! Apa yang aku pikirkan?

“Kau tidak tau aku? Benar-benar tidak tau aku??” ditepuk-tepuk dadanya, melihatku heran. Aku menggeleng. “Baru saja aku mengenalmu kemarin. Apa itu bisa dikatakan dengan benar-benar sudah ‘mengenal’?” tanyaku. Dia meringsut dari kursinya. Tampak kecewa. Mukanya tertekuk rapi. Marahkah? Kenapa harus marah? Aku memang baru mengenalnya kemarin. Memangnya dia siapa? Sampai-sampai aku tidak boleh memanggil namanya keras-keras. Takut ketahuan? Dengan siapa?

“Mianhae. Kalau aku menyakitimu. Mianhae” sesalku. Habisnya dia terlihat murung sekali. Aku jadi tidak enak.

“Gwenchana” ucapnya. Lalu kembali tersenyum melihatku.

Minho POV

“Ya! keroro! Kau darimana saja? Dari pagi kau menghilang sampai sekarang sudah malam kau baru pulang? Ish!” Key mulai persentasi omelannya, begitu dia membukakan pintu dorm. Sebelumnya aku memang tidak melapor pada si Diva Key ini, kalau aku izin keluar. Aku melengos lemas. Melewatinya menuju sofa. Membiarkannya tetap pidato dengan ocehan-ocehannya yang tidak jelas. Yang pasti dia me-ngo-mel.

“Ya! napeunnom! Kau, bila besok kau begini lagi, aku tidak akan izinkan kau keluar” ancam Key. Key melipat tangannya dalam-dalam didepan dada. Melihat ku kesal. Dia menghampiriku. Duduk menemaniku di sofa.

“Darimana saja kau?” tanya Key dengan intonasi suara yang sudah tidak setinggi tadi saat sedang mengomel. Aku mengusap hidungku pelan. “Yang lain mana?” tanyaku.

“Apa kau tidak lihat jam? Ini sudah jam sebelas malam. Mereka sudah tidur. Kau tidurlan cepat. Besok kita mulai sibuk lagi” kata Key. Beranjak dari kursinya meninggalkanku. Aku merenung. Aku memang kecewa, dia tidak mengenal aku siapa sebenarnya. Sedikit sakit hati sih. Bayangkan, nenek-nenek saja tau siapa kami. Apa dia bukan orang asli Korea? Orang korea, tidak mungkin tidak tau kami. Kami Shinee. Boyband kontemporer asal Korea yang fenomenal. Biasanya yeoja seumur dia pasti tau siapa kami. Ini aneh. Baru kali ini, ada yeoja yang tidak mengenal kami. Terutama aku.

Yah.. tak apalah. Yang penting aku bisa bertemu dengannya hari ini. Bisa melihatnya makan hitamnya dengan antusias dengan jarak yang sangat dekat. Mengobrol. Bercanda. Tertawa. Tersenyum. Aku sangat senang dia memberikan respon yang positif untukku. Berjalan-jalan menemaninya disekitar taman benar-benar tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ditambah lagi tadi aku mengantarnya pulang. Aku jadi tau, ternyata rumahnya hanya beberapa blok dari dorm kami. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya ya?

Tunggu.. aku jadi ingat sesuatu. Perkataan ajumma yang tadi, apa maksudnya? Yang mengatakan kalau Rinmi…

‘Minho-ya, sebaiknya jika kau ingin bertemu dengannya, tidak di waktu pagi dan siang hari. Temuilah dia disini, dimalam hari pada jam 7 malam.’

Apa maksudnya?

Rinmi POV

Aku beruntung. Yeoja yang beruntung. Benar-benar yeoja yang beruntung. Bisa berteman dengan namja baik, tampan, lembut, ramah, seperti Minho. Beberapa hari ini, kami rutin bertemu di kedai ajumma. Duduk bersama. Makan mie hitam bersama. Bersenda gurau bersama. Saling mengejek. Saling memuji. Bahkan kami sudah bertukar nomor ponsel. Dia selalu menemaniku jalan-jalan, sehabis memakan mei hitam di kedai ajumma. Dia pelipur laraku. Malamku jadi lebih berwarna berkat Minho. Tak jarang, Minho membuat jantungku memacu cepat akhir-akhir ini. Setiap menerima perlakuan lembutnya yang ditujukan untukku, entah kenapa jantungku langsung berdetak cepat begitu saja.

Rasa menggebu-gebu ini apa namanya? Aku mulai menikmati ini. Tidak sadar, aku selalu berharap, malam lebiih cepat datang. Dengan begitu, aku bisa bertemu dengan Minho lagi di kedai ajumma. Apa aku sudah mulai gila?

Jantungku berpacu kuat lagi. Gara-gara aku sekarang melihat senyumnya yang lembut itu. Minho mengajakku jalan-jalan ke Lotte world hari ini. Dia tersenyum kegirangan begitu dia berhasil menembak balon warna-warni yang ada di depannya. Minho bermain game. Entah apa namanya. Yang pasti game ini berhadiah. Minho mendapatkan sebuah boneka beruang yang amat lucu, karena tadi dia berhasil menembak balon-balon warna-warni itu.

“Ini untukmu” disodorkannya boneka yang baru saja didapatkannya, padaku.

“Untukku?” tanyaku. Dia mengangguk mantap. Memperbaiki letak topinya. Aku heran, kenapa dia tidak melepas topinya saja? Apa dia tidak risih?

“Gumawo…. Oppa” kataku tersipu pelan. Ya. Aku memanggilnya oppa. Dia mendesakku untuk memanggilnya demikian. Tapi aku juga suka. Jadi kalau dibilang, Minho memaksaku untuk memanggilnya oppa, itu tidak 100% benar.

“Kita pulang?” tanyannya. Aku mengangguk. Dia menggandeng tanganku. Uh~ jantungku berdetak lagi kan?! Aku tidak menolak. Aku tidak menolak dia menggandeng tanganku. Justru aku merasakan perasaan yang sangat hangat, yang menelusup ke tengah hatiku. Aku tersenyum. Senang? Tentu. Malah sangat senang. Tuhan memang sangat adil. Tuhan memberikan orang yang sebaik Minho padaku. Gumawo~

Seperti biasa, Minho mengantarku pulang. Tepat sampai di depan pagar rumahku. Dia kembali tersenyum. Diusapnya kepalaku pelan.

“Tidurlah. Ini sudah malam.” Katanya. Tidur? Minho. Seandainya kau tau yang sebenarnya. Ada apa denganku. Apa kau masih bisa memberikan senyum manismu itu untukku? Apa kau masih mau disampingku? Menemaniku?

“Rinmi-ah~ hallo~ jangan melamun. Nanti kesambet setan” dia mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku. Membuatku tersentak. Minho tersenyum geli. Aku hanya bisa cengengesan, menyadari tindakanku yang sangat bodoh. Memalukan.

“Kau masuklah cepat. Sana masuk” suruhnya sambil mendorong tubuhku pelan. Memasuki halaman rumahku. “Annyeong oppa. Aku masuk dulu. Gumawo untuk hari ini” ujarku. Dia mengangguk. Lagi-lagi mengusap kepalaku. Pagar yang tingginya lebih pendek dariku, semakin memudahkannya mengusap kepalaku. Sampai..

Cup

Omo~ aku kaget. Dia mengecup keningku. Wajahku panas. Bengong. Kaget. Senang. Mataku masih membesar kaget. Aku malu. Tapi senang juga.

“Sweet dream~.” Minho pergi. Meninggalkan sejuta rasa yang membuat jantungku lagi dan lagi memacu begitu cepat. Aku tidak pernah berani bermimpi, Minho akan menciumku seperti sekarang. Sungguh. Ini mimipi yang terlalu indah untukku. Senyum masih menghiasi bibir mungilku. Sepi. Sebaiknya aku masuk. Dingin. Jam berapa sekarang?

“Rinmi-ah!” panggil seseorang. Gerak tanganku yang hendak memutar knop pintu, hendak masuk ke rumah, terhenti. Karena suara namja berat memanggilku dari belakang. Otomatis aku berbalik dan.. Minho?

“Oppa. Waeyo? Kenapa kemari lagi?” tanyaku yang masih memagang knop pintu. “Kemarilah” suruhnya padaku. Aku menghampirinya. “Ini untukmu.” Minho menyerahkan selembar kertas untukku. Sebuah tiket? Shinee? apa itu?

“Ige mwoya oppa?”

“Itu tiket bodoh”

“Aku tau ini tiket. Tapi untuk apa? kau ingin mengajakku menonton konser? Shinee? Siapa mereka? Maaf oppa. Aku tidak tau. Aku sama sekali tidak up to date dengan berita luar. Apalagi tentang artis.” Jawabku polos.

“Pantas saja”

“Mwo?”

“Ani. Ehm.. memang benar itu tiket konser. Tapi aku tidak mengajakmu menonton bersama. Melainkan, kau harus datang ke konser kami, menontonku. Arraseo?”

“Konser kami? Menonton Oppa.. artis?” tebakku ragu.

Minho hanya tersenyum. Aku yakin senyumannya itu mengisyaratkan ‘ya, aku adalah seorang artis’. Omona~ pantas saja dia selalu memakai topi, menutupi wajahnya. Takut ketahuan? Oh tuhan~ pantas saja. Kenapa aku begitu bodoh? Pasti dia sempat kecewa, karena aku tidak tau siapa dia sebenarnya. Rinmi pabbo! Pabbo!! Lain kali, akan kucoba untuk terbiasa menonton TV.

“Kau harus datang. Tonton aku. Kalau kau tidak datang… aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi” ancamnya. Aku tidak tau, apakah ancamannya ini serius atau tidak. Dia mengatakan itu, sambil memanyunkan bibirnya lucu. Aku melihat tiket itu lagi. AX Hall… 14.00? Besok, siang hari?

“Tapi oppa—“

“Aku tidak menerima alasan penolakan apapun. Kau harus datang. Ingat baik-baik ancamanku, Rinmi-ah. Aku tidak main-main. Masuklah. Annyeong” dia berlari, kabur. Tidak ingin mendengar penjelasanku dulu?

“Oppa!” teriakku. Percuma. Percuma dia sudah menghilang dari pandangan. Aku harus bagaimana? 14.00? Itu.. siang hari.. aku tidak bisa keluar disiang hari. Minho belum tau tentang hal ini. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin dia menjauhiku gara-gara phobiaku ini. Ya tuhan.. aku harus bagaimana…

Tidak sadar, karena terlalu panik, aku… menangis. Aku tidak pernah semelankolis ini sebelumnya. Dan ini.. ini hanya gara-gara aku terlalu khawatir. Khawatir tentang Minho.

“Rinmi-ah. Gwenchana? Kenapa kau menangis sayang?”

“Omma..” aku berhambur kepelukan ommaku. Memeluknya erat. Menangis sesenggukan. Walaupun omma belum tau kenapa alasanku bisa menangis, tapi omma tetap berusaha mnghiburku. Menepuk-nepuk pungguku pelan.

***

13.20. aku ingin datang. Tapi bagaimana? Matahari terlalu terik. Bisa kulihat dari korden jendelaku yang tertutup rapat. Cahayanya saja, sampai menembus jendelaku. Pasti sangat panas. Aku takut. Sedih. Aku pasti akan mengecewakan Minho jika aku tidak datang ke konsernya.

Aku masih meringkuk duduk diatas kasurku. Mataku sembab. Terlalu banyak menangis, membuat mataku bengkak dan memerah. Bahkan aku pilek sekarang. Kuusap hidungku yang memerah. Pikiranku penat. Pusing. Bingung. Sudah kuputuskan. Aku akan datang ke konser Minho sekarang. Tidak perduli dengan matahari. Aku akan pergi.

Kusambar jaket merah mudaku yang menggantung di lemari. Keluar kamar, menuju pintu. Aku melewati appa dan ommaku yang duduk di sofa tamu, menonton TV. Omma menyadari keberadaanku, seketika terkejut.

“Rinmi-ah, kau mau kemana?” omma menghampiriku. Aku memegang knop pintu dengan gemetar.

“Aku.. aku ingin datang ke konser temanku omma” jawabku gugup.

“Tapi.. tapi.. ini siang sayang. Kau.. kau..” omma tidak melanjutkan omongannya. Aku masih setia memegang knop pintu. Membelakangi omma. Takut melihat kebelakang. Aku yakin omma pasti menangis sekarang. Omma benar-benar tidak tega melihat keadaanku seperti ini. “Jangan keras kepala Rinmi-ah. Jangan memaksa jika kau memang tidak bisa” appa menasehatiku lembut. Menghampiriku. Mengusap lembut kepalaku dari belakang.

“Benar kata appamu Rinmi-ah. Jangan keras kepala. Jelaskan saja padanya, kau tidak bisa menonton konsernya hari ini. Dia pasti mengerti Rinmi-ah”

“Shiro! Aku tidak ingin dia tau omma. Aku tidak ingin….” Dengan cepat kuputar tuas knop pintu. Terpampanglah sekarang. Halaman rumahku terselimuti seluruhnya oleh sinar matahari. Bukan hanya halaman rumahku saja. Tapi sejauh mata memandang, semuanya terselimuti oleh sinar matahari. Sinar matahari menyentuh ujung sepatuku. Nafasku naik turun. Sesak. Jantungku berdebar panik. Bulu kudukku merinding. Kepalaku berputar. Pusing. Aku memegang dahiku erat. Aku mual, ingin muntah. Ditambah lagi, rasa pusing yang menusuk-nusuk kepalaku ini sungguh menyakitkan. Badanku meringsut lemah kelantai. Dan seketika, semuanya gelap.. terakhir hanya teriakan samar omma saja yang terdengar. Tapi setelahnya aku tidak ingat apapun.

***

Minho POV

A.mi.go

Keunyeol boda naega michyeo

A.mi.go

Iri sone an jabhyeo

A.mi.go

Yonggi nae naneun pitch up!

Eddeokhae eddeokhae.. 

Suara handphoneku bordering nyaring. Yeoja itu menelfonku lagi. Aku kecewa Rinmi-ah. Aku kecewa. Kenapa kau tidak datang melihatku? Apa kau lupa? Aku bergelayah di kasurku dengan malas. Sudah tiga hari ini, aku tidak menerima panggilannya. Tidak ke kedai ajumma. Aku tidak melihatnya selama tiga hari ini. Kalau ditanya rindu. Sudah pasti jawabannya iya. Tapi egoku lebih besar. Aku marah padanya. Aku bertekad tidak akan menemuinya. Hatiku terlampau kecewa padanya. Sakit. Padahal aku sangat berharap dia datang, mengenalkannya pada member lain. Aku benar-benar kecewa padamu Rinmi-ah. Ah… sial! Kenapa yeoja itu membuat perasaanku terombang-ambing begini? Begini kah rasanya menyukai seseorang? Sakit.

Satu minggu ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan dia sudah tidak berusaha menghubungiku lagi, semenjak empat hari aku sudah menyueki panggilannya. Aku sudah benar-benar tidak tahan. Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga. Masa bodoh dengan egoku. Perasaan memang tidak bisa dibohongi. Rinmi-ah, kau sudah benar-benar membuatku terikat dengan duniamu.

“Minho, kau mau kemana malam-malam begini?” tanya Key begitu dia melihatku memakai sepatu, hendak keluar. “Aku keluar sebentar Key. Tidak lama. Annyeong” aku menyambar jaketku. Mengambil topiku dan memakainya.

“Ya! tapi ini sudah malam bodoh!”

Blam!

Maaf Key. Tapi harus pergi sekarang. Aku harus menemui yeojaku. Yeoja yang meracuni pikiranku.

***

“Mwo? Dia tidak pernah kemari lagi selama seminggu?”

“Ne.. Minho-ya. Ajumma juga tidak tau kenapa. Ajumma sangat khawatir dengannya. Tidak biasanya dia seperti ini. Ajumma takut terjadi apa-apa dengannya”

“Sasireun.. ajumma.. kami sedang bertengkar sekarang. Aku marah padanya.”

“Marah? Kenapa kau marah Minho-ya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?”

“Dia tidak datang ke konserku kemarin. Itu membuatku sedikit kesal. Dan tidak mengangkat panggilannya selama empat hari. Aku benar-benar marah padanya ajumma” curhatku. Ajumma melotot kaget mendengar penuturanku. “Ya! Anak bodoh!” ajumma menempeleng kepalaku pelan. “Ajumma~ appo. Kenapa kau menempeleng kepalaku sih” kataku. Untung kedai ajumma sepi. Jadi aku bebas berteriak semauku.

“Konsermu kemarin di AX Hall diselenggarakannya siang hari bukan?” tanya ajumma.

Aku mengangguk. Masih tetap mengelus kepalaku pelan. Entah ini hanya perasaanku saja atau apa, mata ajumma melebar, melotot kaget, semakin bertambah besar. Ajumma menghembuskan nafas pelan.

“Apa Rinmi tidak memberitaukan sesuatu padamu?”

“Sesuatu apa? Seingatku tidak. Dia tidak pernah memberitaukan sesuatu yang penting padaku.”

“Ck. Aku yakin sekarang. Kau benar-benar tidak tau tentang kondisi Rinmi?”

Aku menggeleng yakin.

“Baiklah. Ajumma akan memberitau. Sebenarnya Rinmi itu…………..”

***

Rinmi Pov

Ini sudah hari ke dua belas. Dua belas hari sudah aku tidak bertemu Minho. Rindu seakan mencekik batinku. Hatiku meronta dan terus meronta, ingin melihat namja itu. Bolehkah? Kulirik jam dinding di kamarku. Jam delapan. Tiba-tiba saja aku ingin datang ke kedai ajumma. Memakan mie hitamnya. Ajumma pasti khawatir aku tidak pernah kekedai ajumma lagi. Mungkin saja aku akan bertemu Minho disana. Walaupun kemungkinannya sungguh sangat kecil. Mengingat dia masih marah padaku.

“Ajumma~”

“Rinmi-ah. Kau datang?” ajumma memelukku lembut. Kedai ajumma tampak sepi. Mataku mencari sosok namja yang sudah mengacaukan kinerja otakku selama lebih dari seminggu ini. Tapi ternyata..dia tidak ada disini. Aku kecewa dan sedih.

“Duduklah. Ajumma akan membuatkan mie hitam kesukaanmu” ajumma mengusap pipiku pelan. Aku mengangguk. Mencari kursi terdekat untuk kududuk. Aku mendesah. Sedih. Aku benar-benar menyadari sekarang. Aku menyukai namja itu. Minho. Dia telah mencuri sesuatu dariku. Hatiku. Hatiku telah dia curi dariku. Nan eoddokahe? Air mataku jatuh tanpa sadar.

“Hiks.. hiks.. hiks” aku mulai sesenggukan. Kumanfaatkan kedai ajumma yang sepi untuk menangis bebas. Dadaku benar-benar sesak. Ini sudah yang keberapa kalinya aku menangis gara-gara namja itu.

“Wae ullo? Kau jadi jelek kalau menangis” ujar seseorang. Tangisanku mendadak terhenti. Aku tau. Aku tau pemilik suara ini. Suara ini sudah tidak asing lagi ditelingaku. Aku mendongak. Sosok namja bertumbuh tinggi menatapku sembari tersenyum. Aku terdiam. Aku senang. Tapi tidak tau harus berbuat apa.

Aku langsung memeluk pinggangnya, dibawah alam sadarku. Aku kembali menangis. “Berhentilah menangis.” Dia mengelus lembut kepalaku. Melepaskan lilitan tanganku dari pinggangnya. Duduk disampingku. Minho menyentuh pipiku. Mengusap air mataku. Aku memegang tangannya yang mengusap air mataku.

“Kenapa kau tidak memberitauku?”

“Mwo?

“Photophobia.” Nafasku tercekat. Bagaimana Minho bisa tau? Dari siapa? Aku melirik ajumma. Dia hanya tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. “Aku.. aku.. aku tidak ingin kau tau” kataku kembali menangis. “Pabbo! Kalau aku tau, aku tidak mungkin marah padamu. Seharusnya kau memberitauku. Kau tau aku sangat khawatir?”

“Aku takut Minho-ya. Aku takut kau akan menjauhiku.”

“Menjauhimu? Pikiranmu picik sekali.” Minho mendesis marah. Aku hanya tertunduk. Menyesali kebodohanku. “Mianhae.” Ucapku. Minho menyentuh daguku. Menengadahkannya, sehingga wajahku yang berantakan karena menangis bisa terekspos jelas di matanya.

Cup

Dia mengecup pelan bibirku, lalu melepaskannya. Dia tersenyum. Manis sekali…

“Saranghae” katanya

“Ye?”

“Saranghae ragoyo~” ulangnya. Dia melepaskan tangannya didaguku. Membelai-belai rambutku sayang. Aku terkejut. Senang. Terharu. Perasaanku benar-benar tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Kecuali kalian merasakannya sendiri, kalian pasti mengerti perasaanku seperti apa sekarang.

“Would you be mine, my night princess?”

“Night princess?”

Minho hanya terkekeh. Dia pencet hidungku pelan. “Kau memang putri malamku. Lalu kenapa? Apa aku tidak boleh memanggilmu begitu?” aku menggeleng.

“Jadi bagaimana?” desaknya lagi.

“Apa tidak masalah? Aku tidak bisa bertemu denganmu di pagi ataupun siang hari. Hanya dimalam hari kita dapat bertemu. Apa itu tidak masalah?”

“Aku terima itu Rinmi-ah. Cintaku padamu begitu besar. Kau tau, aku sudah lama menantikan ini. Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku mencintaimu Rinmi-ah. Jeongmal saranghae, my night princess”

Aku tersenyum bahagia. Kemudian memeluknya. Dia balas memelukku. Perasaanku begitu nyaman rasanya. Aku suka Minho? Benar-benar tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Aku bahagia. Sangat. Aku senang dia menerimaku apa adanya.

“Ya! kalian. Jangan berpacaran di kedai ajumma. Kalian membuat pelanggan ajumma lari gara-gara melihat kemesraan kalian. Dan kau Minho. Kau harus menepati janjimu pada ajumma. Besok, foto-foto shinee member yang sedang tertidur harus ada ditanganku. Tanpaku, kau tidak akan seperti sekarang. Ingat?” gurau ajumma.

“ Ne ne ajumma. Aku ingat.” Jawab Minho pelan.

“Kenapa kau tidak berusaha mencariku kerumah? Kau tau. Gara-gara kau aku setiap hari menangis.”

“Mian. Aku hanya sedikit menghukummu. Karena kau tidak mau jujur padaku. Tapi aku juga tersiksa tidak bisa melihatmu hampir dua minggu ini.”

“Lalu bagaimana kau bisa tau aku ada disini.”

“Tentu saja ajumma, pabbo. Untuk itu dia menagih janjinya tadi. Hah~. Permintaannya aneh. Menyuruhku mengambil foto shinee member yang sedang tertidur. Kenapa ajumma harus seorang shawol? Membuatku kerepotan saja” Minho memajukan bibirnya, manyun. Lucu sekali. Aku yang masih ada didekapannya hanya tersenyum geli melihat tingkahnya yang seperti anak-anak.

“Kapan-kapan aku akan mengenalkanmu dengan teman-temanku di Shinee.” katanya antusias. Aku mengangguk pelan.

Terimakasih Tuhan. Kau memberikan hadiah yang begitu manis untukku. Photophobia. Ketakutan akan cahaya. Aku takut dengan sinar matahari. Aku sudah mengalami ini sedari kecil. Berbagai macam pengobatan telah aku lakukan. Dan itu sungguh menyakiti batinku. Batinku seakan dicakar habis oleh dokter terapi, tempatku berobat. Sampai akhirnya aku tidak kuat, dan memilih menyerah.

Tapi sekarang. Aku mensyukuri. Photophobiaku ini, membuat aku bertemu dengan sosok namja yang amat sangat baik. Lembut padaku. Sayang padaku. Menerimaku apa adanya. Dan pastinya, dia mencintaiku dan akupun mencintainya.

Choi Minho…

You are the first and last for me…. Yongwonhi…

Gumawo sudah membuat hariku lebih berwarna..

Gumawo sudah memberikanku ketenangan..

Gumawo sudah memberikanku kelembutan..

Gumawo sudah mengajarkan cinta kepadaku…

Jjinja gumawo…

>>>>>>END<<<<<<<<

Eoddhokhae readers? Ancur? Jelek? Kagak nyambung? Alurnya kecepetan? Gak dapet fellnya?#banyak banget yak pertanyaan gue (-.-)

Hahaha.. kalau memang demikian kenyataannya, mohon maafkan author ya readers sekalian. Maaf. Maklumlah, namanya juga fanfic kacangan. Yang udah baca, aku harap mau comment ya.. comment readers sekalian sangat dibutuhkan oleh author sebagai bahan pijakan untuk menaiki level selanjutnya(?)#loe kira game thor? Naik ke level selanjutnya?

Gumawo# boW J

Iklan

5 respons untuk ‘My Photophobia, Make Me Meet You

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s