MY BOYFRIEND IS CHIKEN MANIAC (POK POK POK POK)


Title : My Boyfriend is Chiken Maniac(Pok Pok Pok Pok)

Author : Park SojinKey

Cast : Lee Jinki(Onew) Shinee, Lee Nana(namanya maksain banget)

Support Cast : Other Shinee member, Lee Sooman dll

Lenght : Oneshot

Rating : G

Genre : Comedy Romance garing. Siap-siap bosaaaannnn.

Sebelumnya, aku mau minta maaf kalau ada kesamaan ide atau kesamaan karakter dalam ffku ini. Namun aku jamin 100% ff yang aku buat ini jauh dari kata plagiat. Idenya terkesan simple. Berdsarkan saran dan kritik dari readers tercinta sekalian, aku udah berusaha belajar bagaimana caranya membuat ff yang baik dan benar. Nah untuk itu, aku mohon kritik dan sarannya, supaya tau kesalahanku dimana. Gumawo#bow#

Satu lagi! Maaf klo ada miss typos… ceritanya agak membosankan, mudah-mudahan readers sekalian tidak muak dengan cerita yang aku buat. Gumawo skali lagi… n.n  ini juga sudah pernah aku kirim ke SHAWOLINDO.. cuma disitu doang.. sama di Wp pribadiku ini :).. gambar’na aku dapat dari mr. google..


Siapa sih yang tidak kenal dengan leadernya Shinee? Leader –yang paling terkenal dari seluruh boyband yang ada di Korea- karena sifat sangtaenya yang sudah sangat keterlaluan dan sudah-sangat mendarah daging. Kalian juga pasti tau karena sangtaenya itu, dia sudah jatuh keberapakalinya saat perform? Oh yah, jangan diingat-ingat lagi. Itu akan membuat kalian tertawa aku yakin 100%. Kalian tahu kan siapa yang kumaksud? Ayolah jangan berpura-pura. Salah satu yang membaca tulisanku ini pasti seorang MVP.

Lee Jinki. Namja bermata sipit, berhidung mancung plus dua gigi kelincinya, membuat namja itu makin tambah manis saja. Tapi karena dia seorang entertainer, managemennya memberikan stage name ‘Onew’ padanya. Onew?? Apakah ada kaitannya dengan Unyu??? Unyu unyu gimanaaaa gitu. Banyak yang bilang Onew itu Unyu. Manis? Cute?

Adakah diantara kalian yang ingin tau siapa diriku?#jiah# Kuharap iya… Perkenalkan, namaku Lee Nana#namanya maksain banget T.T# Dan siapakah aku? kuberikan nilai 100 jika tebakan kalian benar. Aku adalah yeojachingu si Sangtae itu. Alias Onew atau mungkin Lee Jinki? Apalah , apapun panggilannya, dia tetap namja yang paling aku sayangi.

*****

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo… Hen!!! Kau akan datang ke perform kami di Mucore?”

“Ehm… ne wae?”

“Ani keunde, kau pasti membawakanku ayam kan? Bawakan yang banyak ya Hen!! Annyeong!!”

“ah-“

Bip.

Selalu seperti itu. Langsung mematikan telfon tanpa menunggu responku terlebih dulu. Aku memang sayang padanya, cinta padanya. Apapun akan kulakukan untuknya, selagi aku mampu. Ok, kuakui ini memang tidak logis. Ini memang terlalu kekanak-kanakan. Tapi bisakah hanya 1 hari saja, hilangkan kata ayam dari hidupnya? Seorang ‘Nana’ –anak dari Lee Sooman, petinggi SM Entertaiment- kalah pesona dengan ayam? oh.. jjinja, ini membuatku benar-benar gila. Sesulit itukah  menghilangkan kata ayam dari kehidupan seorang Lee Jinki? Namun, seberapa keras usahaku untuk tidak mau membelikannya ayam goreng tapi tetap pada akhirnya, jadi juga kubelikan dia ayam. Dulu, sudah jauh-jauh hari, aku berjanji dalam hati tidak akan pernah lagi membelikan ayam kesukaannya itu. Tapi lagi-lagi aku dikalahkan dengan serangan mata anak anjingnya. Atau istilahnya puppy eyes?  Kenapa harus ada ‘ppupy eyes’ di dunia ini???#galau modeon#

*****

Ceklek

“oh!! Ayam!!!”

Tuh kan, bukannya menyambut yeojachingunya yang baru saja datang dengan panggilan ‘oh Chagiya, neo wasso?’ ini malah ‘oh! Ayam???’ Dasar namja konslet! Kalau aku tidak cinta, tidak sayang padamu, ingin kucekik kau sekarang juga!

Dia menyambut kedatanganku, eh instruksi, maksudnya kedatangan –dengan sekotak ayam goreng yang ada ditanganku- dengan antusias. Hiks… lagi-lagi aku harus menahan cemburu gara-gara ayam. Bayangkan jika kalian jadi aku, bagaimana perasaan kalian? Dicueki oleh namjachingu sendiri yang lebih memilih bersama, berdua, bermesraan(?) dengan ayam goreng kesukaannya. Bahkan para donsaengnya  –meminta secuil ayam yang ada ditangannya pun- tidak boleh. Oh, bahkan donsaengnya tidak menyapaku. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hyung sama donsaeng sama saja. Sama-sama tidak sopan!

“Tidak ada yang bisa mengambil ayam dari hidupku”

Jiah! Kau terlalu berlebihan ‘ayam’! Dengan ayam kau bisa berkata semanis itu. Denganku? Kapaaaaaan? Kurasa tak pernah. Oh.. aku benar-benar galau dibuatnya.

Aku yang tengah duduk di sofa waiting roomnya Shinee (Mucore), melirik sebal kearah 5 namja bersinar ini. Besinar? Oh ayolah, setidaknya jangan mengotori kata’namja bersinar’ dengan kelakuan kalian sekarang yang seperti anak kecil, berebutan ayam.

“Oh ayolah. Kalian tidak akan mati jika tidak memakan ayam goreng yang ada ditangan Jinki sekarang” Kacang..kacang… Tak ada satupun dari mereka yang menghiraukan perkataanku. Kurasa tak ada gunanya aku disini. Selesai sudah tugasku menjadi ‘tukang antar ayam goreng’. Lebih baik aku pergi, daripada makan hati. Kalian( Shinee member minus ‘Ayam’) semoga berhasil merebut ayam goreng dari tangan si ‘Ayam’!! Dan buat si ‘Ayam’, jangan coba-coba menghubungiku karena aku marah padamu. Selamat berebut-rebut ria!!!

BLAM!!!!

Aku membanting pintu kasar. Kesabaranku hari ini sudah batas maksimal. Jangan sampai aku didalam ngamuk-ngamuk tidak jelas juntrungannya, sedangkan yang membuatku marah pada awalnya cuma gara-gara ayam? Sungguh alasan yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Suara ribut-ribut didalam sudah tidak terdengar. Oh! Kalian sekarang baru menyadari kalau aku menghilang dari pandangan? Selamat!! Kalian mendapat durian runtuh karena telah sukses membuat seorang ‘Lee Nana’ kesal sampai ke ubun-ubun!!

“Annyeong haseyo Nana agashi”

“Ah! A-an-annyeong haseyo” aku sedikit membungkukkan badanku kepada staf yang baru lewat dan menyapaku tadi. Auh.. posisiku benar-benar memalukan. Aku malah dengan tidak sadar tadi merekatkan telingaku ke dinding pintu –tanpa melihat situasi sekitar dan aku lupa diriku siapa-.  Mereka yang melihatku pasti heran, mengapa –anak dari seorang petinggi SM- membungkuk tidak jelas didepan pintu sambil menempelkan kupingnya di dinding pintu? Mereka pasti mengerti kalau aku sedang menguping. Tapi.. tunggu dulu. Menguping? Sangat tidak cocok dengan image seorang Lee Nana yang terkenal anggun dan dingin. Ah! Gara-gara ‘Ayam’ itu!! Rusak sudah image yang kubangun selama ini.

Setelah sapaan yang berantakan(?) itu, aku langsung melengos pergi. Dapat kurasakan wajahku panas menahan malu. Ditatap aneh oleh banyaknya staf Mucore yang berlalu-lalang. Omo.. omo seorang ‘Lee Nana’ yang anggun dan dingin menjadi pabo gara-gara namja ‘Ayam’ itu?! Awas saja kau nanti ’Ayam’! jangan harap aku akan mengangkat telfonmu nanti! Mimpi saja kau!

*****

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10……

Drrrrttt…drrrrttt….drrrrrttt…

Aku tersenyum bangga, hitungan ku tak meleset. Baru saja aku sampai ditempat parkir, hendak membukan knop pintu mobil, handphone touchscreen besar yang ada disaku jaketku, bergetar. Menandakan seseorang tengah mencoba menghubungiku saat ini.

Chiken maniac calling…….

Chiken maniac? Dulu, nama kontaknya di handphoneku itu bukan chiken maniac. Melainkan ‘Nae Chagiya’. Tapi karena saking kesalnya aku padanya, gara-gara sindrom maniac ayamnya, kuubah nama kontaknya menjadi Chiken maniac. Dan sampai sekarang aku tak ada niat untuk merubahnya. Kurasa ’chiken maniac’ lebih cocok untuknya ketimbang ‘nae chagiya’.

Buat apalagi kau menghubungiku ‘Ayam’!!! kau sadar kalau aku marah sekarang gara-gara kau cueki? Hah… sekarang silakan kau nikmati, bagaimana rasanya dicueki!! Jangan harap aku akan mengangkat telfon darimu!!! Pacaran saja sana! Dengan ayam, soulmate sejatimu itu!! Kalau perlu nikah juga sekalian!!! Biar lebih afdol!!!!

Kulempar benda mini itu sembarang kedalam mobil. Mau rusak… hilang.. apa kek, toh nantinya aku bisa beli lagi. Ayahku kan ‘Lee Sooman’. Siapa yang tidak kenal dia? Seorang ajhussi kaya, ramah, baik dan mempunyai anak semanis diriku#Nana dilempar sandal ma Readers#

Kalian pikir, siapa yang mengumpulkan kelima anak-anak Shinee yang katanya bersinar itu, kalau bukan ayahku? Siapa yang mengumpulkan ketigabelas namja-namja manis bin keren itu, kalau bukan ayahku? Siapa yang mengumpulkan kesembilan yeoja-yeoja kaki jenjang, yang kata orang-orang –super-duper-cantik- itu, kalau bukan ayahku? Tentu berkat jasa ayahkulah SM Entertaiment makin terkenal sebagai managemen pencari bakat no 1 di Korea! Loh… kenapa topik pembicaraan beralih ke ayahku? Tadi kan aku marah-marah gara-gara si ‘Ayam’…(author mohon, kalau ada antisnya Sooman ajhussi, jangan dicekal ya. P-E-A-C-E J)

*****

Drrrrttttt…….drrrrtttt…drrrtttt……

“Teruslah menelfon ‘Ayam’!! kau pikir aku akan mengangkat telfon darimu? Oh yah… aku akan mengangkat telfon darimu, jika kau sudah menghilangkan kata ayam jelek itu dari hidupmu!”

Aku berteriak-teriak, memaki-maki seperti orang gila. Yah seperti orang gila. Aku yang sekarang notabene sedang mengendarai mobil sport biruku dengan kesal, sedang berteriak-teriak memaki-maki dengan penuh emosi, sedangkan yang kulampiasi emosi hanya seonggok benda mini yang tak bernyawa yang sedari tadi bergetar nyaring tanpa kucoba untuk meraih dan mengangkatnya. Karena aku tau dari siapa panggilan itu berasal, makanya tak kuangkat. Melihat saja aku tidak mau, apalagi meraihnya untuk diangkat. Lagipula benda itu juga tak tau kulempar kemana. Hanya suara getaran nyaringnya saja yang menggema di seluruh permukaan ruangan dalam mobilku.

*****

Dengan di bukakan –pagar kokoh menjulang tinggi sekitar 3 meter- oleh satpam rumah, aku memasuki pekarangan rumahku yang lumayan besar, tanaman hijau disana-sini tampak menghias mata. Kuparkir mobilku di garasi dan langsung masuk kedalam rumah –dengan muka tetap ditekuk dan bibir manyun 10 cm(?)-

“Aku pulang..” ujarku malas sekedar menyapa orang dalam rumah.

“Uri taeliya neo wasseo?” Oh.. ternyata orang yang dibalik koran yang duduk di sofa tamu – dengan menaikkan salah satu kakinya bak raja- itu appaku? Appa melipat Koran yang mungkin sedari tadi sudah dibacanya –menyambut kedatanganku dengan senyum tidak seperti biasanya-. Bukan berarti appaku tidak pernah tersenyum padaku. Hanya saja appaku jarang dirumah karena sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi dijam-jam seperti ini. Biasanya, appaku masih setia dikantornya, mengurus pekerjaan yang entah selesainya kapan. Dikarenakan banyaknya tawaran job, kontrak, pertemuan dengan klien inilah.. klien itulah… Ah.. pokonya banyak deh..

“Appa? Sejak kapan jam segini appa sudah ada dirumah? Tidak ke kantor?” ucapku sambil memasang tampang heran. Karena itu memang sungguh tak biasa. Kini aku duduk disamping appaku menatapnya penuh tanya.

“Wae?? Appa tidak boleh pulang kerumah appa sendiri?”

“Ani.. keureoke aninde. Hajiman, jam segini biasanya appa selalu duduk manis disinggasana appa, selalu berpacaran dengan berkas-berkas kesayangan appa yang tak kumengerti sama sekali. Apakah tidak ada tawaran job yang masuk? Solma….perusahaan appa mau bangkrut?? Andwee!!!!!” kataku bertampang lebay.

PRAAK!

Kepala, tepatnya ubun-ubun kepalaku dengan sukses selamat sentosa menjadi sarang pelampiasan kertas koran yang dilipat appa sedari tadi.

“Appa!! Aku kan hanya menebak!! Lagipula tebakanku belum tentu benar kan?!! Aish! Appa ‘mata kodok’!! aku benci appa!!” semprotku sambil mengusap-usap ubun-ubun kepalaku. Lumayan sakit juga.

“Siapa suruh bicara gak pakek koma, gak pakek titik, gak pakek enter? Asbun! Appa dirumah, santai-santai seperti sekarang memang benar sih tidak ada job yang masuk. Jadi pekerjaan yang lain yang notabene mudah ditinggalkan, appa biarkan bawahan appa yang mengurusnya. Bukan berarti appa bangkrut!! Kamu mau mendoakan perusahaan appa bangkrut hah??” tanya appaku pura-pura kesal.  Mana mungkin appa benar-benar kesal padaku. Aku ini anak semata wayang. Sangat dimanjakan kedua orangtuaku. Terutama appa. Ya ya lah, aku kan imut dan manis#readers pada muntah#

Aku beranjak dari kursi, pergi ke lantai atas hendak ke kamar. Satu hari ini dua orang sudah membuatku kesal. Berikutnya siapa lagi? Ada yang mau daftar??

“Hen! Mau kemana??”

Langkahku yang saat itu tengah menyusuri anak tangga, terhenti seketika. Menatap appa kesal, dengan mata merah seperti iblis. Saking kesalnya.

“Darimana appa tau nama jelek itu??”

“Calon menantu appa dong. Wae? Chua aninde? Kurasa nama itu sungguh manis, pantas Jinki memanggilmu begitu. Two tumbs untuk calon menantu kesayangan appa..! Cepat-cepat nikah deh, Appa dan Ommamu sudah tidak sabar menimang cucu ditangan. Kekeke…”

“Appa!!!! Arrrrgghhhh!!! Dasar appa ‘mata kodok’ jelek!!!!! Appa dengan maniak ayam itu sama saja!!! Kalian sudah membuatku sangat kesal hari ini!!!!!” kembali aku menyusuri anak tangga itu –dengan wajah ditekuk yang semakin menjadi-jadi- dengan sedikit berlari dalam iringan langkahku. Setelah dirasa yakin tulisan ‘nana’s room’ bertengger mesra dipintu berplitur keemasan itu –yang tentunya adalah kamarku sendiri- kubuka pintu kasar kutup pula dengan kasar.

“WALAUPUN CHIKEN MANIAC DAN SELALU MEMBUATMU KESAL, TAPI KAU TETAP CINTA PADANYA KAN? HEN KU YANG MANIS…..!!!!” teriak appa menggodaku, yang masih bisa kudengar walau samar-samar dari dalam kamarku. Teriakannya itu menggelegar bagai gledek disiang bolong yang tentu sangat menggangguku. Dan sekarang…kudengar appa… tertawa?? Oh..great tertawalah diatas kekesalanku appa. Awas saja kau nanti appa ‘mata kodok’ jelek!!! Kusembunyikan celana kolor pink kesayanganmu, baru tau rasa kau appa!!!! Hahahaha#tawa ala evil Kyu#

Ok. Biar kuberitau kalian kenapa aku tak suka dipanggil Hen. Bermuasal dari mulut seorang Lee Jinki yang sembarangan, dia memanggilku dengan sebutan Hen.

Awalnya aku biasa saja dia panggil aku Hen. Aku kira itu panggilan yang sama artinya dengan ‘honey’. Hen? Hon? Menurut kalian sama tidak? Atau beda jauh?? Suatu hari, karena rasa penasaranku yang sudah tidak terbendung lagi –karena desakan orang-orang tentunya yang  terus bertanya padaku kenapa ‘Ayam’ itu memanggilku demikian- kutanyakan kenapa dia memberiku panggilan Hen.

Flashback…

“Jinki-ya, apa alasanmu memanggilku Hen?” tanyaku. Saat ini aku sedang berada di dorm anak-anak Shinee. Shinee kebetulan hari ini sedang kosong jadwal, untuk itu aku melancong kesini hanya sekedar melihat keadaan namjachinguku. Hanya sekedar ingin tau, apa sih yang dia lakukan diwaktu senggang?

Posisiku yang duduk berhadapan dengannya disofa ruang tamu, semakin memudahkanku –padahal pemandangan ini sangat membuatku mual- melihatnya yang sangat tekun memakan kedua ayam goreng ditangan kanan dan kirinya. Atau kalau dia memilki lima tangan bak dewa, kurasa kelima tangannya berisi penuh ayam goreng.

Yang lain?? Minho dan Taemin sedang asik ber-PS ria didepan Tv memainkan game kusukaan mereka, WE(Winning Eleven). Key yang sedang berada didapur tampak membuat eksperimen dengan menu baru yang baru saja dia dapat dari majalah. Terakhir, Jjong duduk manis di meja makan yang pandangannya tidak lepas dari sosok Key yang ada didapur. Ralat! Maksudnya, pandangan Jjong tidak lepas dari sosok makanan yang Key buat didapur (Not JONGKEY moment). Sepertinya Jjong jadi bahan percobaan ‘pencicip’ makanan Key atau istilahnya tester?

Jinki menghentikan aktifitas makan ayam gorengnya sejenak. Kemudian menatapku sembari tersenyum, menenggelamkan kedua matanya menjadi bentuk satu garis tipis –saking sipitnya-. Sebelumnya aku pernah menyarankan Jinki untuk melakukan operasi pelebaran kelopak mata#emangnya ada?# agar matanya tidak sipit tingkat akut seperti ini. Tapi dia menolak. Lantaran katanya “itu akan membuat ketampananku hilang. Mata sipit adalah ciri orang tampan”. Aigo pede sekali namja ini. Memang sih aku menyukai namja ini gara-gara mata sipitnya. Apadah… berarti berdasarkan argument Jinki, semua namja sipit didunia ini, tampan?? Menurut kalian?? Apa iya??

“Hen dalam bahasa inggris, Hen itu artinya ayam betina. Jadi kau ayam betinaku dan aku ayam jantannya. Hehehe” WHAT?? Dia melanjutkan acara makan ayam gorengnya tanpa melihat ekspresiku sekarang seperti kucing yang jatuh kekali, dikejar anjing gila. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Apes nian nasibku.

“Aku… ayam betina? Hen?” gumamku pelan masih tak percaya dengan penuturan Jinki barusan. Suara cekikikan dua orang namja dari arah dapur menyadarkanku dari lamunan. Aku yakin mereka pasti mendengar apa yang Jinki katakan. Tidak sampai disitu, kini suara cekikikan itu bertambah dua orang lagi yang suaranya berasal dari ruang Tv. Bisa kulihat dengan jelas Minho dan Taemin menekan perut mereka masing-masing, menahan diri supaya tidak tertawa.

Jinki!!!! Kau sudah membuatku malu didepan mereka! Aku kau samakan dengan ayam betina? Kenapa aku tidak sadar dari dulu Hen itu artinya ayam betina? Ah… jeongmal Nana ppabo!!! Ppabo!! Ppabo!!!

“Aku pulang!!” sungutku kesal, langsung melengos pergi dari tempat terkutuk itu tanpa aba-aba atau larangan darinya terlebih dulu.

Flashback end….

Alhasil gara-gara masalah itu, aku tidak mengangkat telfon, tidak membalas SMS darinya sama sekali –karena kesal tentu saja-, selama 3 hari. Peristiwa itu benar-benar memberikan dampak yang segnifikan untukku. Setiap orang-orang –selain Jinki- memanggilku Hen, darahku akan melonjak drastis langsung keubun-ubun, membuatku marah-marah tak jelas. Entah kenapa emosiku langsung meledak duar!! Begitu, kalau ada orang selain Jinki yang memanggilku Hen. Sangat memalukan kurasa. Bukan kurasa lagi, tapi ini benar-benar memalukan.

Tok Tok Tok

Aku yang mengingat masa-masa suramku(?) dulu, yang saat ini sedang bergelayah ria di kasur king Size milikku, dikagetkan oleh suara pintu yang berketok nyaring ditelinga. Kudongakkan kepalaku, sambil menatap kearah pintu. “Nugu?” tanyaku.

“Ini omma, dear”

Omma?

Aku bangkit dari tidurku, berjalan gontai kearah pintu lalu membukanya perlahan, memutar batang kunci searah jarum jam.

Ceklek

“Omma, waeyo?”

“Dear, Taemin mencarimu. Dia ada diruang tamu. Sebaiknya kau cepat temui dia, kelihatannya ada sesuatu hal yang penting. Masih ada sesuatu yang harus omma kerjakan didapur. Omma pergi dulu, bila perlu buatkan Taemin minuman”

“Ne” kataku. Omma benar-benar tuan rumah yang baik, tidak akan mengecewakan tamu yang berkunjung kerumah. Tapi ada apa gerangan Taemin mencari diriku? Apa dia mau mewakilkan Jinki untuk minta maaf padaku?

“Taemin-ah, waeyo?” tanyaku ramah. Belum sempat aku mempersilakannya duduk, dia sudah terlanjur menarik tanganku lebih dulu, membawaku keluar rumah dan langsung memasukkanku kedalam fannya. Ini penculikan namanya.

“Mian noona, kita harus buru-buru ini benar-benar gawat”

“Setidaknya tidak diisi adegan manarik tangan dengan paksa segala kan?? Kau pikir ini film India? Hallooo tidak ada Sharukhan disini..” sungutku kesal. Fan ini sudah bergerak dengan dikemudikan oleh seorang supir, entah akan membawa kami kemana.

“Dashi hambon mianhaeyo noona.”

“Kalau benar-benar penting, kenapa tidak menghubungiku lewat benda modern yang dinamakan hp saja! Kau apakan hp mu? kau makan?!” Sebutan orang-orang yang menyebutku ‘Noona killer’ tampaknya sangat cocok untukku. Apalagi yang memberi nama itu padaku, orang yang ada satu mobil denganku ini. Bukan supirnya tentu saja,tapi Taemin sendiri. Dia memberi julukan demikian, karena yang selalu kena semprot kalau aku marah, ya si Taemin sendiri. How poor Taemin. Mianhaeyo ‘banana milk boy’. Aku janji, kalau amarahku sudah padam, akan kubelikan kau 1 lusin dus susu pisang kesukaanmu. Yaksok!!

“Aku sudah mencoba menghubungi Noona dari tadi. Tapi noona tak urung mengangkat telfon dariku juga” wajahnya pias sekali, jadi menyesal sudah membentaknya tadi. Ups! Aku lupa kalau hp ku kulempar kemana..

“ehem.. gwenchana. Aku lupa hpku kutaruh dimana. Memangnya kenapa kau mencariku” intonasi suaraku mulai turun drastis. Yang tadinya garang sudah mulai melembut sekarang.

“ehm.. Jinki hyung jatuh saat perform. Tangan kanannya patah” ucap Taemin pelan dan takut.

“MWO??? Jatuh?? Ah.. jjinja namja itu!! Benar-benar sangat ceroboh!!! Bagaimaan tidak ceroboh? Diotaknya hanya ada ayam.. ayam..dan ayam..!!!! Tidak pedulikah dia dengan keselamatan dirinya sendiri??”

Taemin sadari tadi hanya menunduk takut. Mungkin dia tau responku seperti ini, makanya sedari tadi dia diam dan terus menundukkan kepalanya. Tidak berani menatapku, yang sudah seperti malaikat yang baru turun dari neraka. Benar-benar lebih dari sekedar kata ‘menyeramkan’.

“Dimana dia sekarang?”

“Di dorm. Dokter dirumah sakit bilang, Jinki hyung bisa dirawat jalan dirumah. Jadi tidak perlu harus menginap dirumah sakit segala.”

*****

Taemin membawaku ke dormnya. Tanpa tending aling-aling, aku mendahului Taemin memasuki dorm Shinee. Tanganku dengan gesit menari-nari, memasukkan pin dorm yang sudah sangat aku hafal diluar kepala. Tanpa berminat menyapa orang dalam rumah, karena aku yakin semua orang rumah pasti tengah merawat ‘Ayam’ ceroboh itu!

Ceklek

“YA!!! NEO JJINJA JJUGOSHIPOHAEYO????!!!”

“Nana, jangan berteriak-teriak seperti itu. Jinki hyung sedang sakit. Kau harus me-gert-, ah… mianhamnida. Sebaiknya aku pergi. Bicaralah baik-baik dengan Jinki hyung” kata Jjong menepuk pundakku pelan. Tatapan mematikanku yang seolah-oleh berkata ‘diam kau!!!’ tampaknya membuat Jjong cukup mengerti kalau aku sedang kesal dan sedang tidak ingin diganggu. Terbukti sekarang Jjong diikuti oleh kedua deonsaengnya yang mengikut dibelakang seperti bebek, meningggalkan ruangan ini. Dimana sekarang hanya ada aku dan si ‘Ayam’ jelek ini berdua.

Dia tengah berbaring dikasurnya, dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia pikir aku hantu? Sebegitunya dia takut melihatku? Dasar! ‘calon’ suami takut ‘calon’ istri!!!! Kalau misal kita sudah menikah nanti, aku yakin pasti sangat sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Tentunya aku dalangnya, bukan Jinki. Satu lagi kebiasaan jelekku. Aku selalu memukul Jinki kalau kesal. Tapi untung, aku masih bisa menahannya. Tampaknya aku harus bersabar menghadapi namja ‘Ayam’ ini.

Auh.. apa ini? Bed cover bergambar ayam?? Benar-benar maniak ayam sejati.

“Kenapa kau bisa sampai seperti ini?” kataku mencoba lembut.

“Aku yang tidak berhati-hati”

“Lalu kenapa kau tak berusaha untuk berhati-hati? Kau ini selalu ceroboh dan selalu membuatku khawatir”

“……………..”

“Ya! singkirkan selimutmu! Aku ingin kau melihatku kalau bicara!” Adegan tarik menarik selimut antara aku dan Jinki pun terjadi. Padahal tangan kanannya patah. Kenapa dia bisa menggunakan tangan kirinya dengan sangat bertenaga?

“Ya!! Neo jjinja.. aku bilang lepaskan!!!”

“Aku seperti ini karenamu”

Aktifitasku seketika terhenti. Tanpa sadar, selimut itu terlepas dari tanganku. Walaupun sangat pelan –kupingku yang masih berfungsi dengan  normal dan setiap hari kurawat- tidak mungkin salah dengar. Karena aku? apa maksudnya?

“Kego musunsuriya? Jadi kau menyalahkanku atas kemalangan yang menimpamu sekarang?”

“Ani! Aninde!! Kego aniya!!!” Dia mengibaskan selimutnya kasar. Langsung bangkit dari tidurnya menjadi duduk –walaupun agak kewalahan bangun karena tangan kanannya yang di gips- menghadapku, melihatku lekat-lekat. Seakan sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama. Padahal baru saja tadi siang aku bertemu dengannya.

“Aku tau kau marah padaku gara-gara aku menyuekimu dan lebih memilih berebut ayam dengan deonsaengku. Aku khawatir sedari tadi aku mencoba menghubungimu, selalu suara operator wanita yang terdengar karena kau tak urung juga mengangkat telfon dariku”

Syukurlah dia menyadari kesalahannya. Biasanya dia sangat tidak peka kalau masalah yang beginian. Kalau masalah tentang ‘soulmate sejatinya’ itu, sampai terperincinyapun dia pasti tau. Kalau di Korea Selatan ini ada ‘Perguruan Khusus tentang Pendidikan Ke-Ayaman’, aku ragu Jinki akan menolak untuk kuliah lagi. Secara ayam gituloh… soulmate sejati seorang leader Shinee. Ingin rasanya membuat satu virus yang dapat mematikan seluruh ayam didunia ini seketika. Walaupun sudah ada virus yang bernama ‘flu burung’ tapi tetap membuatku tak puas. Kalian tak lupa kan, kalau Jinki dulu pernah terkena virus ini. Namun dia tetap tak pernah kapok makan ayam. (author Cuma ngarang, benernya Jinkippa kena virus flu babi bukan flu burung. Jadi untuk keperluan cerita thor ganti deh jadi flu burung)

“Tolakan panggilan darimu membuatku tak konsen saat perform. Pikiranku selalu tak lepas dari sosokmu. Aku tau selama ini, kau sangat tidak suka diriku yang maniak ayam. Aku mau… aku mau, mulai saat ini aku tidak akan memakan ayam lagi. Kalau itu bisa membuatmu terus berada disampingku dan membuatmu tidak akan pernah meninggalkanku—“

Chuuuuuuuuu

Kuraih dagunya dan langsung mencium bibir mungilnya lembut. Bulshit! Dengan kata-kata ‘yeoja tidak boleh mencium namja lebih dulu’. Siapapun yang memulainya lebih dulu, itu sama saja bagiku. Lagipula menunggu Jinki yang menciumku lebih dulu itu rasanya tidak mungkin. Bahkan untuk mengenggam tanganku pun dia masih gemetaran.

Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak menciumnya. Demi diriku? Oh.. to tweet >.<

Kulepaskan ciuman kami setelah beberapa menit. Walaupun bukan ciuman French kiss, tapi ciuman hanya sekedar menempelkan bibir kami seperti yang kulakukan tadi, tampaknya cukup bagi Jinki yang masih awam dalam pacaran. Hi..hi..hi.. pipinya merah ranum seperti apel. Lucu sekali namja ini.

“Kau berkata manis sekali Jinki. Jangan berkata seperti itu lagi, kalau tidak ingin kucium” ucapku tersenyum nakal.

“Dan satu lagi, jangan hentikan kebiasaan makan ayam yang kau sukai itu. Seorang Lee Jinki atau lebih dikenal dengan panggilan Onew –leader dari seorang boyband Shinee yang terkenal-, tanpa ayam ditangannya seperti laut tanpa garam” lanjutku lagi, sok puitis.

Bisa kulihat walau menunduk, seulas senyum hangat terukir manis dibibirnya. Benar-benar namja yang sangat polos. Membuatku makin cinta saja padanya.

“Aku tidak ingin hanya karna keegoisanku nantinya akan membuatmu sedih. Jangan paksakan kehendakmu, kalau memang kau tak bisa, tak mampu untuk kau kerjakan” Badanku menunduk, membelai kedua pipi chubynya pelan, sentuhan penuh kasih dan penuh sayang.

Chu

“Gumawo, Hen ku sayang. Saranghaeyo”

Aku mengerjap kaget. Seorang Lee Jinki yang terkenal polos dan lugu, mencuri ciuman dariku???? Dibibir. Kuulang : DIBIBIR!!! Aku yang tampak salah tingkah menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal sama sekali.

“Jinki kau sudah mulai nakal” ucapku pelan.

“Hehehe, kau sendiri yang mendidikku jadi nakal. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” Darimana dia belajar ber-pribahasa dengan baik dan benar? Dari Jarjit Sing kah?(upin dan ipin)

“Apa itu? Mendidikmu jadi nakal? Kapan?”

“Tadi itu apa? Kau yang menciumku lebih dulu. Aku hanya mengikutimu”

“Ah.. tweso! Jangan bahas itu lagi!”

Suasana tampak hening sejenak. Berdua dikamar dengan si ‘Ayam’ sangtae ini membuat jantungku mencuat-cuat tidak karuan. Ditambah lagi tak ada salah satu dari kami membuka topik pembicaraan. Haah.. kenapa tiba-tiba suasananya jadi gerah seperti ini?

“Kau sudah makan?” tanyaku sekedar berbasa-basi ingin rasanya aku keluar dari kamar ini segera. Berada disini benar-benar membuatku tidak nyaman karena nervous.

Dia menggeleng merespon pertanyaanku

“Ya sudah tunggu disini sebentar, aku akan membawakan ayam goreng kesukaanmu. Sementara aku mengambil ayam didapur, berbaringlah dulu sebentar”

Kakiku hendak bergerak menuju pintu, tapi baru sekitar dua petak kakiku bergerak, sebuah tangan mencengkram tangan kiriku erat.

“Kenapa lagi Jinki?”

“A-ehm.. aku.. aku akan mencoba mengurangi jatah makan ayamku setiap harinya. Asalkan…asalkan…asalkan….”

“Asalkan apa Jinki-ya? Palli marhae. Kenapa bicaramu seperti kesedak ayam? tersendat-sendat begitu”

“Asalkan.. asalkan, kau mau menciumku tiga kali sehari. Cium dimanaaaa saja terserahmu. Yang penting cium. Habisnya baru saja aku menyadari, berciuman dengamu ternyata lebih enak daripada makan ayam goreng. Mau ya? Mau ya? Mau ya? hehehe…”

“MWO?????!!!!”

OK. Sepertinya tindakanku salah, menciumnya lebih dulu. Akankah Jinki yang dulunya chiken maniac sekarang bermetarmorfosis menjadi kiss maniac??? Ah!!! Andweee!!! Memikirkannya saja sudah membuatku mimisan. Siapa yang mau tukar posisi denganku??#readers pada angkat tangan# Sayangnya aku tidak akan semudah itu melepaskan ‘Ayam Sangtae’  itu pada kalian, DIA HANYA MILIKKU!#pada dicekek MPV# Bukan termasuk ayam kesukaannya. Ayam!! Minggat leo sana!! Gua ambilin celurit leo, baru tau rasa!!!

T-A-M-A-T

  Tamat! sepertia biasa.. tolong beri nafas author#plak! alah~ lebay’na

Iklan

5 respons untuk ‘MY BOYFRIEND IS CHIKEN MANIAC (POK POK POK POK)

  1. klo aku punya cowok kyak onew udah q gantung hidup ntuh orang..
    tapi klo onew beneran kagak bakal *kekkekekke

    lucu ffnyaa, simple, bkin ngakak~~

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s