Baby FACE Part 1

Title : Baby Face Part 1.2

Author : Park Sojinkey

Main cast : Lee Taemin, Kang Haji

Support  cast : other shinee member

Length : 2shot(rencananya sih 2shot) bisa juga jadi sequel entar

Rating : G

Genre : romance, school life, humor(mungkin)

Note : Maaf kalau ceritanya membosankan dan lain sebagainya. Manusia itu, tak luput dari kesalahan. Dan sebagai manusia, setiap hari kita harus belajar. Kalau ada yang gak suka sama cerita ini, thor minta maaf yaw.. jangan jadi siders ya.

Haji Pov

Sebelum kalian membaca ceritaku, tentunya kalian juga harus tau siapa pemeran utamanya bukan? Kalian tidak akan mengerti cerita, jika kalian tidak tau siapa sang tokoh utama. Perkenalkan. Namaku Kang Haji. Ok. Aku mohon jangan ada yang menyatukan margaku Kang, dengan Haji nama panggilanku. Jika kalian melakukan itu aku akan menyeruduk kalian seperti banteng. Kupites kalian seperti kutu, jika kalian memanggilku dengan nama lengkapku. Kecuali untuk omma dan appaku. Aku tidak mau menjadi anak durhaka karena aku manghajar orang tuaku sendiri (-.-‘) Aku tidak suka, orang memanggilku Kang Haji, dengan nama lengkapku. Kalian mengerti maksudku kan? Coba kalian sebut nama lengkapku berulang-ulang.

Kang Haji

Kang Haji

Kang Haji

Kang Haji

Kangaji

Stop! Jangan diteruskan! Namaku Kang Haji! Bukan Kangaji! Namaku bukan anak anjing!! Kangaji sama artinya dengan anak anjing! Untuk itu aku tidak suka dipanggil dengan nama lengkap. Tapi orang-orang yang tidak suka denganku, selalu memanggilku ‘Kangaji’. Cih! Mereka pikir aku anak anjing?? Terkutuklah mereka, yang memanggilku Kangaji. Dari sudut mana wajahku ini seperti anak anjing? Oh. Kalau sama-sama imut sih iya.. tapi dari keseluruhan, NO!

Just call me ‘Haji’ ok? Stop tentang nama. Sekarang beralih ke umur. Umurku sekarang 19 tahun. Masih menduduki bangku sekolah. Tepatnya, sekarang aku kelas 3 SHS. Bersekolah di Shinee High School. Oh! Ada yang terlupa. Apa ada diantara kalian menebakku seorang namja? Bukan! Aku ini yeoja. Yeoja tulen. Bukan yeoja jadi-jadian.

Tapi anehnya, walaupun aku ini yeoja tulen yang seperti aku katakan tadi, sampai sekarang aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya seorang namja. Bukan berarti aku lesbi. Bukan berarti aku benci namja. Semua namja tampak sama dimataku. Pergi ke salon… Pergi ke mall.. Pacar.. Kencan.. Lelaki tampan.. huh~ itulah topik-topik yang terlalu sering kudengar jika teman-teman yeojaku sedang bergosip ria di kelas.

Sebut saja salah satunya, Subin. Dia chingu sekelasku. Subin salah satu teman yeojaku yang akrab denganku.  Dia selalu curhat tentang pacarnya yang tampan padaku. Subin selalu mengatakan “Ya~ Haji-ah.. carilah pacar, maka kau akan tau apa yang aku rasakan sekarang. Kau tau? Memiliki orang yang disuka itu sungguh sangat menyenangkan” katanya sambil memamerkan kekehan khasnya.

Begitulah serentetan kata-kata Subin, jika aku menanyakan bagaimana rasanya mempunyai seorang namja. Atau yang dia sebut sebagai pacar? Mungkin aneh dimata teman-temanku mengingat aku yang sudah kelas 3 SHS ini tidak pernah menggandeng seorang namja. Mau bagaimana lagi? Aku tidak tertarik. Bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan? Kalau mencari pacar hanya untuk membuktikan kalau kita laku, bukankah itu bisa dibilang menipu? Menipu perasaan sendiri maksudku. Tidak ada untungnya pamer pacar. Itu sih menurutku.

Selesai dulu ceritaku sampai disini. Kenapa stop dulu sampai sini? Aku bukan sedang sekarat dan mau mati. Aku sehat tidak terjangkit virus atau penyakit mematikan. Mau bunuh diri? Tidak. Tapi……… “OMMA! HAKGYO-E GAYO!!” teriaku kencang. Kuturuni satu persatu anak tangga dengan tergesa. Mandi, mengganti bajuku dengan seragam sekolah, memasuki buku pelajaran dengan asal ke dalam tas ransel, semuanya kulakukan hanya dengan waktu tiga puluh menit.

Drap.. drap.. drap… drap..

“Ya! Haji-ah! Tidak sarapan??” tanya omma. Omma menatapku dengan mata bulatnya. Ditatanya lauk pauk yang wah~ aku yakin itu pasti enak, di meja makan. Coba waktunya tidak mencekik seperti sekarang, pasti aku bisa menikmati masakan omma yang lezat. “Sarapan dulu sayang” hasut appaku lembut. Seketika aku menggeleng cepat. Menggerakkan kembali tubuhku menuju  pintu rumah.

Ceklek!

Blam!!!

Ups! Sepertinya aku membanting pintu terlalu kencang. Aku tidak sengaja. Mianhae~ Ok. Jika kalian tidak mengerti situasiku sekarang seperti apa, biar aku beritau. AKU TERLAMBAT! Ini sudah yang kelima kalinya aku terlambat dalam seminggu. Haksaeng yang terlambat lima kali dalam seminggu akan mendapat hadiah manis dari Evil Kyu songsaengnim. Oh Tuhan~ akan ada hukuman yang menyambutku di sekolah nanti. Ck! Sial! Jam weker sial! Sudah aku ganti baterainya, tetap saja tidak mau hidup!! Aku harus membeli jam weker baru. Harus!!

Bersyukurlah diriku, jarak antara sekolahku bisa kutempuh hanya dengan waktu 20 menit. Itu kalau berjalan kaki. Dan kalau aku ganti dengan berlari, mudah-mudahan bisa memangkas waktu menjadi 10 menit saja! Aku mulai berlari. Tas ransel dipunggungku naik turun akibat ulahku, yang lari seperti orang kesetanan.

Hosh.. hosh. Hosh.. Nafasku naik turun. Dadaku sesak. Jantungku berdetak menggila. Aku memang tidak terbiasa dengan yang namanya berlari. Belum apa-apa, bumi yang aku pijaki terasa berputar cepat dan membuatku sedikit pusing. Kuputuskan untuk berjalan perlahan. Menetralkan kembali nafasku yang tadi sempat terputus-putus.

Secara tidak sengaja, mataku melihat sosok laki-laki tengah bersimpuh ditaman yang sedang aku lewati. Namja itu bersimpuh dihalaman taman dengan beralaskan rumput hijau, sambil memegang dahinya. Seperti kesakitan. Karena sifat wonder womanku kambuh lagi, kakiku otomatis menuju tempat namja itu bersimpuh. Ingin melihatnya dari dekat. Takut sesuatu terjadi padanya.

Namja yang memakai jaket berwarna putih keabu-abuan itu masih saja memegang dahinya. Dan dari jarak sedekat ini, aku bisa mendengar dia meringis. “Neo gwenchana?” tanyaku pelan. Memegang pundak sebelah kirinya. Dia menoleh kebelakang. Melihatku. Kesan pertama untuk namja ini adalah.. dia.. cantik.. Benar. Aku tidak bohong. Apa dia yeoja? Tapi dilihat dari celana panjang hitamnya, celana sekolah? Oh rupanya dia mau berangkat sekolah. Sepatu olahraga warna putih khas namja, tidak mungkin kalau orang ini yeoja. Setelah kutelisik lagi, namja ini… sungguh sangat imut dan unyu sekali.

Dia tersenyum. Mengangguk pelan kearahku. Aku bangun. Berpindah posisi menjadi berada di depannya. Aku berjongkok dihadapannya. Tapi namja ini tetap menunduk. “Jjinja gwenchana?” tanyaku lagi memastikan. Dia mendongak. Tersenyum lagi padaku. “Aku hanya sedikit pu..”

Bruk!

Belum sempat dia menuntaskan kalimatnya, dia sudah terhuyung kebelakang dengan kepala yang menyentuh rumput lebih dulu. Omo! Namja ini pingsan! Nan eotthokae? Bagaimana ini? Aku menggigit bibir bawahku. Khawatir namja ini kenapa-napa. Kalau dia mati bagaimana? Ups! Jjinja pikiranku benar-benar kacau! Kuhampiri tubuh terkaparnya, kucek denyut nadinya. Oh. Masih berdenyut, berarti dia belum mati. Itu benar-benar membuatku lega.

Kulihat jam digital yang melilit di tangan kiriku. Huft! Sudah 20 menit aku terlambat. Aku harus bagaimana sekarang? Kenapa namja ini belum juga sadar dari pingsannya? Apa pahaku sebegitu empuknya huh? Sampai kau tidak bangun-bangun? Apa perlu kucium dulu seperti putri tidur, baru kau mau bangun? Aish! Apa yang aku katakan? Pikiranku sudah aneh.

Inisiatif sendiri, tadi aku memberikan pahaku yang beralas tas ranselku sebagai pijakan kepalanya untuk tidur. Kau dengar namja imut, aku tidak menuntut bayaran untuk ini. Ini gratis! Menikmati paha yeoja yang masih perawan, enak huh? Ck! Habisnya aku tidak tega melihatnya terkapar begitu saja di rerumputan. Kasihan. Apalagi suhu badannya agak naik sepertinya. Keningnya hangat. Aku yakin dia demam. Huh! Tumben-tumbennya tidak ada satu sosok manusia pun yang lewat taman ini. Bagaimana caranya aku meminta bantuan?

Setelah sepuluh menit sabar menunggu, akhirnya namja ini mulai sedikit demi sedikit membuka kelopak matanya. Membuatku reflex tersenyum. Senang karena dia sudah sadar. Bahagia karena sebentar lagi pahaku bebas dari siksaan. Omo~ pahaku mulai kesemutan. Dia bangkit dari tidurnya. Mengerjap-ngerjapkan mata. Lalu melihatku.

“Kau baru saja pingsan tadi” jelasku karena dia terlihat seperti kebingungan. Dia menggaruk belakang kepalanya. Pipinya merona kemerahan. Dia tersipu malu. “Gumawo” ucapnya lembut. Aku lagi-lagi tersenyum. “JHS(SMP) mu dimana? Ayo, biar aku yang antar. Sepertinya kau masih lemah hanya untuk sekedar berjalan. Aku takut kau pingsan lagi seperti tadi”

Senyum yang terukir jelas dibibirnya tadi, menghilang. Namja ini melihatku kesal. Dia bangkit dari duduknya, kasar. Tampak tergesa. Sungguh aku tidak mengerti. Dia marah? Karena apa?? Namja.. oh bahkan kami belum saling berkenalan. Dia menatapku kesal. Dan aku hanya bisa mengernyitkan alisku, heran. “Kau kenapa melihatku seperti itu?” tanyaku.

“Terimakasih atas pertolongannya AJUMMA!” dengan sedikit tersenyum mengejek, dia melongos pergi dari hadapanku. Meninggalkanku sendirian di taman yang sepi ini, dengan aku yang masih tetap duduk bersimpuh di rerumputan. Apa? Dia tadi bilang aku apa? ajumma? AJUMMA???? Ya! bocah sial tidak tau diuntung! Sudah bagus aku tolong.. dia malah kurang ajar sekali padaku! Jjinja!! Kalau tau seperti ini, aku tidak akan menolongnya! Biar saja dia mati disini!

Seketika aku bangkit. Melihatnya yang sudah agak jauh dariku. Tapi masih bisa aku liat siluet tubuhnya dari sini. “YA! BOCAH SIAL TIDAK TAU TERIMAKASIH! KALAU AKU BERTEMU DENGANMU LAGI, AKU PATAHKAN TUBUHMU JADI DUA!!” teriakku beringas. Aku tak tau dia mendengarnya atau tidak. Aku memukul udara kosong. Menendang rerumputan hijau yang tidak bersalah sama sekali. Sial! Sial! Bocah sialaaaaaan.. dia sudah membuat moodku jadi buruk seperti ini.

Taemin Pov

Aku terlambat. Aku yakin itu. Tapi setelah mencari alasan yang mengatakan bahwa aku sakit, Kyu songsaengnim mengijinkanku masuk. Lagipula, aku benar-benar sakit. Aku tidak berpura-pura. Ah. Kalian pasti tidak mengenalku kan? Kenalkan aku Lee taemin. Haksaeng di Shinee High School. Kelas 3 SHS. Wajahku memang tidak sesuai menjadi anak kelas 3 SHS. Aku terlalu cute untuk anak seumuran kelas 3. Aku benci jika ada orang yang mengatakan, bahwa aku masih JHS.

Dan kalian tau, baru saja tadi ada yeoja yang menyangka aku masih JHS. Dia malah kurang ajarnya ingin mengantarku ke JHS ku. Tidak tau kah dia aku sudah SHS sekarang? Kutinggalkan saja dia di taman sendirian. Kubiarkan dia berteriak-teriak sendiri seperti orang gila. Habisnya aku tersinggung. Padahal sebelumnya dia dengan baik hati mau menolongku yang sedang pingsan. Anemiaku kambuh.

Kepalaku mendadak pusing begitu tadi setengah perjalanan menuju sekolahku. Kuputuskan untuk istirahat di taman yang terlihat lengang oleh manusia, yang kebetulan aku lewati. Bukannya malah membaik, kepalaku malah bertambah pusing. Benar-benar sakit sekali rasanya kepalaku tadi. Saat itulah dia datang. Yeoja itu. Menanyakan keadaanku baik-baik saja atau tidak.

Jujur. Pertama kali melihat yeoja itu, kuakui dia manis. Apalagi dengan rambut panjangnya yang tergerai diterpa angin, membuat yeoja ini tampak berkarisma sekali. Jantungkupun mendadak mengadakan pesta kembang api di dalam. Duar.. duar.. duar.. begitu. Ada yang aneh pada diriku. Benar, aku tidak mengerti sama sekali. Apa ini?

Aku menjawab pertanyaannya dengan senyum dan menganguk pelan. Dia menanyakan keadaanku yang tampak mengkhawatirkan untuk yang kedua kalinya. Disaat itulah, rasa-rasanya tubuhku sungguh sangat lemas. Aku terhuyung, dan seketika gelap. Aku pingsan. Baru aku membuka mataku. Kepalaku terasa sangat nyaman. Omo~ aku jadi malu kalau mengingatnya. Aku tiduran dipahanya. Pahanya empuk sekali seperti bantal. Bahkan mungkin lebih empuk dari bantal.

Dia tersenyum, menjelaskan padaku bahwa aku pingsan tadi. Malu sebenarnya. Masa aku yang seorang namja, pingsan? Padahal aku tau niatnya baik. Bahkan dia terkesan sangat khawatir padaku. Tapi kata-katanya itu yang mengatakan dia akan mengantarkanku ke JHS ku, seketika langsung membuatku kesal.

Membutakan segalanya. Aku lupa dia sudah menolongku. Aku lupa dia sudah sangat baik padaku. Dan entah pikiran setan darimana, aku memanggilnya ajumma. Kurang ajar memang. Tapi mulutku sudah berucap seperti itu. Tidak bisa diulur lagi. Menyesal? Ya. tentu aku sangat menyesal. Sempat kudengar tadi dia akan mematahkan tubuhku, jika kami bertemu lagi. Ngeri.. Omo! Aku baru ingat. Seragamnya.. seragamnya… seragamnya sama dengan haksaeng-haksaeng yeoja disekolahku. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia tau, aku bersekolah yang sama dengannya? Apa benar, dia akan mematahkan tubuhku menjadi dua? T.T

“Taemin-ah, anemiamu kambuh lagi?” tanya teman ku Key. Key datang dengan tiga temanku yang lain. Menjengukku yang masih istirahat di UKS. Aku mengangguk pelan. Key duduk di pinggir kasur yang sedang aku tiduri. Dengan ketiga temanku yang lain mengekor dibelakang. Onew, Jonghyun, Key, dan Minho adalah sahabat dekatku di kelas. Bahkan kami ini se-geng. Nama geng kami, sama dengan nama sekolah kami. Shinee. Agak berlebihan memang. Tapi kami sudah sangat tersohor di sekolah ini. Bahkan banyak yeoja-yeoja dari sekolah lain, selalu menunggu kami sepulang sekolah hanya untuk menyerahkan hadiah kecil pada kami. Entah itu coklat, jam tangan, topi, baju, dan masih banyak lagi. Kami sudah seperti artis saja.

Tunggu dulu, jika kami terkenal, kenapa yeoja yang tadi menolongku seperti tidak tau siapa diriku? Apa dia bukan murid sini? Ah. Tapi aku yakin, dia juga bersekolah disini. Aku tidak mungkin salah.

“Kau harus banyak-banyak makan vitamin Tae-ah” sihat Minho padaku. Lagi-lagi aku mengangguk. “Kau kenapa? Sepertinya kau khawatir sekali” Omo~ pertanyaan Onew si Ayam, mengingatkanku pada yeoja seram tadi. “Ada yang tidak beres?” sekarang giliran si Jjong yang bertanya. Aku tampak salah tingkah. Kuceritakan tidak ya? ehm.. setelah lama berpikir, kuputuskan saja untuk bercerita. Mudah-mudahan dengan sharing, kekhawatiranku bisa sedikit berkurang.

“Benarkah ada yeoja yang seperti itu?” tanya Minho dengan mata bulatnya, setelah aku menceritakan secara mendetail tentang yeoja itu. Mata bulatnya, membuat namja ini seperti kodok. Sungguh aku tidak bohong. Tapi asal kalian tau, namja ini sungguh memiliki karisma yang sangat tinggi sekali.

“Menurutmu? Ck! Tentu saja ada kan. Kalau tidak, aku tidak akan takut seperti ini. Belum lagi, kami ini ternyata satu sekolah. Bagaimana kalau dia benar-benar menghajarku?” ucapku ngenes. Aku galauuuuuu…

“Tenang saja Tae-ah. Jangan takut. Masih ada kami” kata Key menenangkanku, sambil menepuk kepalaku pelan. Kalau namja ini sifatnya sangat ke-ibuan sekali. Tidak jarang aku sering merengek manja padanya. Memperlakukannya layaknya ibu kandungku. Suka warna pink. Suka belanja, dia sophaholic. Suka memasak. Apalagi ya? ehm… yang jelas, dia bisa melakukan segalanya. Almighty?

“Kalian tidak belajar?” tanyaku. Ini bukannya jam pelajaran masih berlangsung? Kenapa meraka kemari? “Hehehehehe” mereka terkekeh kompak padaku. Aigo~ mereka pasti bolos. Bahkan Onew si rangking satu umumpun ikut membolos? Pelajaran apa sekarang? Aish! Aku ingat. Sekarang pelajaran sejarah. Yang membuat mata tidak tahan untuk segera menutup. Kantuk merajalela. Ck.. yesungdah lah.. biarkan saja mereka disini. Lagipula aku juga sedikit bosan.

Author Pov

Seorang yeoja tengah sibuk membersihkan toilet. Ini adalah toilet terakhir yang harus dibersihkannya, setelah tadi sudah menuntaskan tiga pekerjaan lainnya. Toilet kelas satu, toilet kelas dua, toilet guru, sudah dibersihkannya. Sekarang terakhir, toilet kelas tiga. Kalau diungkapkan dengan gaya bahasa yang berlebihan, tangan dan kakinya terasa akan terlepas dari tubuhnya. Pegal tanganya, sedari tadi terus mengkeret-keret alat pel, membersihkan lantai toilet. Sakit pinggangnya, sedari tadi terus membungkuk. Sakit kakinya, sedari tadi terus berjalan hilir mudik membersihkan seluruh isi toilet.

“Kyu songsaengnim tega sekali menyuruhku membersihkan seluruh toilet sekolah ini seorang diri. Huwaaaaaa….. aku kan hanya terlambat satu jam” teriak yeoja itu. Suaranya membahana ke seluruh toilet perempuan kelas tiga yang tampak sepi. Yeoja yang bernama lengkap Kangaji itu #brak bruk brek brok# *author di judo Haji*

Maaf maksud thor, yeoja yang bernama lengkap Kang Haji itu *berbicara dengan muka biru penuh lebam* tampak istirahat sejenak. Menghembuskan nafas lelahnya. Disandarkannya tubuhnya ke dinding toilet. “Untung lah.. aku sudah membersihkan toilet pria. Aku harus menyelesaikan ini segera, lalu aku akan pergi ke kantin” ungkapnya, lalu kembali bekerja. Melanjutkan kembali aktifitas dengan alat pel yang ada ditangannya.

Setelah dia menuntaskan seluruh hukuman membersihkan toiletnya, Haji pergi ke kantin. Memesan semangkuk bakso (?) untuk memberi cacing-cacing di perutnya makan. Karena cacing yang ada di perutnya tampak sudah berdemo menuntut sembako dari Haji.

Teeet.. teeet.. teeet…

Baru saja Haji menikmati dua sendok bakso ke mulutnya, bel istirahat berbunyi. Selang satu menit, kantin sudah ramai. Kepala-kepala kelaparan tampak berseliweran disana-sini. Membuat Haji agak risih. Dia benci suasana ramai. Jarang Haji makan di kantin. Paling dia membawa bekal dari rumah, lalu di makannya seorang diri di kelas. Tapi karena situasi kepepet tadi, dia lupa meminta bekal sarapan pada ommanya. Jadi, dari pada mati kelaparan, dia memutuskan untuk makan di kantin saja.

Situasi kantin yang tadinya sangat ramai dan tentunya sangat berisik, hening seketika. Haji heran, kenapa orang-orang kelaparan ini tampak tidak seberisik tadi. Haji menyadari, semua orang memfokuskan pandangannya pada satu titik. Karena penasaran, Haji ikut-ikutan melihat ke satu titik itu. Dilihatnya lima namja tengah memasuki kantin. Tampan? Biasa saja. Itu menurut Haji. Tapi setelah matanya melihat dengan jeli namja-namja itu, salah satu dari lima namja itu membuat mata Haji membulat besar. Bakso yang mendekam di mulutnya jatuh lagi ke mangkuk. Menjijikan -,-

“Namja itu.. alamak~ pantas saja dia memanggilku ajumma tadi (-.-‘). Aku kira dia masih JHS. Salahkan ibu mangandung dia mempunyai wajah semanis itu. Aku tidak menyadari, celana hitam yang dia pakai sama dengan celana hitam sekolahku. Bahkan seragamnya terbungkus jaket putih abu-abunya. Bagaimana aku bisa tau dia sudah SHS? Satu sekolah pula!? Kelas berapa kira-kira namja itu?” gumam Haji sendiri seperti orang gila. Kantin masih tampak lengang. Namja ataupun yeoja yang melihat kelima namja yang baru saja memasuki kantin itu, tertegun penuh rasa kagum.

Haji bangkit dari duduknya. Kakinya bergerak yakin, menuju lima pria tampan itu. Entah apa yang dia akan lakukan. Kita liat saja setelah pesan-pesan berikut..#plak! Author dilempar sandal ma readers.

Haji Pov

Sudah kuputuskan akan meminta maaf pada namja itu. Aku sebegitu tidak sopannya menerka bebas dengan mengatakan dia masih JHS. Bagaimana tidak kesal? Aku saja tidak suka jika ada yang memanggilku dengan nama lengkap. Tentu dia mempunyai privasi tersendiri. Sungguh aku tidak menyangka dia SHS.

“Ya! Kau! Namja rambut jamur!” Sungguh. Aku tidak punya maksud untuk berteriak seperti tadi. Aku jadi terkesan galak dan menakutkan. Namja itu, yang kupanggil rambut jamur, menoleh padaku. Matanya seketika mendelik melihatku. Dia yang tadinya sedang memasan makanan di kedai bakso ajumma, langsung bergerak panik. Bersembunyi dibalik tubuh namja kekar dengan rambutnya berdiri seperti landak.

“Jjong! Sembunyikan aku! sembunyikan aku! dia orangnya.. dia orangnya…” katanya ketakutan masih tetap bersembunyi dibalik tubuh namja kekar itu. Aish! Namja ini lucu sekali. Sampai bersembunyi seperti itu. Aku ingin tersenyum. Tapi kutahan. Aih~ pantas saja dia takut seperti itu. Aku jadi ingat, tadi ditaman itu, aku sempat mengancamnya akan mematahkan tubuhnya jadi dua.

“Ya! Sebaiknya kau jangan mencari masalah dengan chingu kami” sahut temannya yang lain. Kurasa dia paling tinggi diantara kelimanya. Masalah? Aish! Dia pasti sudah mengadu ke teman-temannya, perihal diriku. Sial! Apa saja yang dia ceritakan ke temannya? Pasti dia menceritakanku bengis seperti setan. Keempat temannya melihatku sengit. Membentengi namja rambut jamur itu dengan tubuh mereka. Dapat kurasakan, pandangan seluruh penghuni kantin menghujam kearahku. Aish! Mereka pikir, ini adegan sinetron di tv? -.-‘

“Maaf.. ini urusanku dengan namja itu. Bisa kalian minggir?” ucapku sehalus mungkin. Aku tidak ingin terjadi keributan. Niat awalku memang bukan mengajak ribut sebenarnya. Kenapa situasinya jadi seperti ini? “Tidak akan!!” sahut keempat namja itu kompak sekali. Aigo~ mereka pikir aku ingin mendengar mereka latihan orchestra? “Kenapa tidak boleh?” tanyaku mencoba sabar. “Kau pasti akan memukulnya kan?!” jawab namja sipit -yang juga salah satu teman namja jamur itu- seenak udangnya. Huft~ mungkin ia jika tadi aku tidak tau kebenarannya seperti apa. Tapi sekarang? Tidak lagi….

“Haah…. Ya! Namja rambut jamur! Kalau kau memang manly, keluar dari tempat persembunyianmu sekarang juga” kataku padanya.

TBC>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Bagaimana?? Mau memberi kritik dan saran? Monggo ayo silakan~~ gumawo yang udah baca#bow J kalau ada yang gak suka sama FF author, thor minta maaf ya. buat yang udah baca; plus comment, thor ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya. Seneng deh, kerja keras thor dihargai.. jangan jadi siders ok 😉

Iklan

10 respons untuk ‘Baby FACE Part 1

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s