Saranghae~ Dino Pabbo Part 3

Title : Saranghae Dino Pabbo part 3

Author : Park Sojinkey

Main cast : Kim Jonghyun, Kim Nara

Support  cast : other shinee member

Length : chapter

Rating : G

Genre : romance, school life, humor

Note : ye ye ye.. thor balik lagi.. ini nih lanjutan FF’a abang Dino J…. Dengan tidak banyak cobek.. langsung author persembahkan ‘saranghae Dino pabbo’ part 3… dibaca… seperti biasa, jangan jadi siders.. ok?

“Chagi~”

“Ehm..”

“Kok ehm? Chaginya mana?” rengeknya manja. Aku terkekeh tanpa suara. Berusaha agar tidak diketahui olehnya. “Ya! Kalau kau menelfonku untuk menggombal, aku matikan sekarang juga!” ancamku. “Andwe!! Yah chagi~ kau galak sekali sih” Bisa kudengar dari nada bicaranya dia sangat manja sekali =.=

“Sudah. Aku tidak akan termakan gombalanmu. Kenapa kau menelfonku? Kalau tidak penting, aku matikan sekarang juga” ancamku lagi. “Andwe! Andwe! Aish~ mendengarmu mengomel aku jadi makin tambah cinta saja padamu” Apa itu? =.= ckckck..

“Chagi~ sekarang kan malam minggu, bagaimana kalau kita pergi ke lotte world? Kita pergi kencan. Kau mau?” Kencan? Kyaaaaa >.<… dari dulu aku sudah mendambakan ini. Bergandengan tangan mesra, saling menyuapi gulali, menaiki odong-odong.. eh? Odong-odong? Ani.. maksudku bianglala.. ya bianglala… ckckck khayalanku jauh sekali..

“Ehm… bagaimana ya?” kataku pura-pura berpikir. Padahal dalam hati sudah sangat kebelet. Bukan kebelet ke kamar mandi. Tapi kebelet jawab ‘ya aku mau Dino’…. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa jujur dengan perasaanku. Aku terlalu gengsi. “Ayolah chagi~ mau ya? ya? ya? ya?” Aku yakin, dia pasti melakukan aegyo sekarang. Dia bodoh atau bagaimana? Dia pikir aku bisa melihat aegyonya dari telefon? =.= dasar Dino pabbo.

“Ehm…. Baiklah” ucapku akhirnya. Dan kalian tau? Dia menjerit kegirangan begitu aku mengiyakan ajakannya. Senang sekali. “Baiklah.. aku akan menjemputmu sekarang chagi. Berdandanlah yang cantik. Eh ani.. tidak berdandan pun, kau sudah cantik” Aih.. masih saja dia sempat-sempatnya merayu. Rayuannya ada berapa halaman sih? Setelah aku mematikan telfon, aku langsung menghampiri lemariku. Membukanya, mencari baju yang kira-kira pas dan cocok untukku. Dan pilihannya jatuh pada dress pink selutut yang sangat manis sekali. Kubiarkan rambut panjang hitamku tergerai. Ditambah aksesoris jepit kupu-kupu yang menjepit poniku, agar tidak terus jatuh menutupi mataku. “Not bad” ujarku pada pantulan diriku di kaca besar, sepanjang tubuhku. Aku bergegas turun dari kamarku.

Dimana Key? Key. Namja itu masih saja tidak setuju aku berpacaran dengan Jjong. Alasannya, ya karena sifat Jjong yang playboy itu. Key mengkhawatirkanku. Key tidak mau aku sakit hati nantinya. Aku mengerti dia khawatir padaku. Aku sangat mengerti. Tapi aku sudah terlanjur sayang dan cinta pada Dino pabbo itu. Sedangkan Onew, Minho dan Taemin bisa menerima hubunganku dan Jjong. Bagaimana caranya agar aku bisa mendapat restu dari Key? Walaupun aku evil, sering mengerjainya, sering menyebutnya panci gosong bocor, tapi  Key adalah sachan yang paling aku sayang. Dia sudah kuanggap seperti saudara kandungku.

“Key!” teriakku. Tidak ada jawaban. “Key!!” teriakku lagi. Masih tetap tidak ada jawaban. Sebenarnya namja itu kemana sih? Kenapa dia keluar rumah tidak bilang bilang? Aish! Membuatku bingung saja. Aku mengedarkan pandanganku ke dapur. Tempat faforit Key. “Ke- kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!”

“Hahahahaha… begitu saja kaget. Dasar yeoja penakut!”

“YA! Bagaimana tidak kaget? Kau muncul tiba-tiba seperti itu! Kenapa kau bungkam saja saat aku panggil? Kau budek?” kataku kasar. Dia, namja ini tiba-tiba saja muncul dari bawah meja dapur. Tepat saat aku melihat ke dapur, dia menyembulkan kepalanya tiba-tiba. Aku kira dia suster ngesot =.= Dia masih saja tertawa. Mengejek sekali.

“Key-ah.. aku izin pergi”

“Kemana?” tanyanya cepat. Tawa ngakaknya langsung terhenti begitu saja. Tergantikan dengan mata yang memandangku penuh selidik. “Jangan bilang, kau akan pergi berdua dengan Jjong” tebak Key. Dan aku hanya bisa tersenyum lebar mengiyakan tebakan Key. Key mendesah. Mulai… mulai… dia mulai ber-kotbah lagi… sebentar lagi.. aku yakin, tunggu saja.

“Nara~ sudah berapa kali aku bilang. Akhirilah hubunganmu dengan Jjong. Namja itu tidak baik untukmu. Aku takut nantinya kau sakit hati gara-gara dia. Apa kau tidak ingat? Sudah berapa yeoja yang dia sakiti? Aku tidak mau kau menjadi yeoja yang disakiti Jjong selanjutnya.” Tuh kan. Apa aku bilang? Dia pasti akan memberiku wejangan lagi. Aku menghampirinya yang berada didapur. Dia memakai celemek kesayangannya. Aku memeluknya sayang.

“Gumawo Key sudah mengkhawatirkan aku. Memang benar apa yang kau katakan Key. Jjong itu namja yang suka mempermainkan wanita. Aku tau Key. Jjong itu memang namja yang perangainya kurang baik. Tapi, bukankah semua manusia berhak mendapat kesempatan kedua? Aku akan memberinya kesempatan Key” Key balas memelukku. Mengelus kepalaku lembut.

“Tapi Nara-ya, aku tidak mau Jjong menyakitimu. Hanya itu.” Kata Key lirih. “Aku tau Key. Aku akan membuat Jjong berubah. Aku ingin rasa cintaku padanya, bisa membuat dia sadar dan tidak akan bersikap seperti itu lagi. Bukankah kekuatan cinta bisa merubah segalanya?” Entah darimana aku mendapat argumen seperti itu. Tiba-tiba saja melintas di otakku yang cetek.

“Jadi kau cinta padanya?? Aih~ kenapa kau tidak pernah cerita padaku dari dulu?” goda Key. Aku melepas pelukan kami. Kulihat dia tertawa masem-masem. Mengejek =.= Aku manyun. Melipat tanganku erat di depan dada. “Sudahlah. Wajahmu jelek kalau tertekuk seperti itu” ucap Key. Aku berusaha tersenyum semampuku. “Yah… kalau kau tersenyum seperti itu, malah seperti tupai.. kekeke”

“KEY!!”

“Sudah jangan berteriak lagi. Kau tidak jadi pergi?”

“Kau mengizinkanku pergi dengan Jjong? Ah~ gumawo Key” kataku sambil kembali memeluknya. “Ya! ya! lepas! Pergi sekarang, atau aku tidak jadi mengizinkanmu pergi..” ancamanya. Seketika aku melepas pelukanku dan lari pontang-panting menuju pintu. Sedangkan Key, masih bisa kudengar dia terkekeh pelan melihat kelakuanku yang kelimpungan akibat ancamannya.

***

“Chagiya~ kau lama sekali. Kau sudah cantik. Tidak perlu berdandan terlalu lama. aku sudah seperti dendeng sapi menunggumu disini. Sangat panas” Dia mengibas-ngibaskan tangan kanan ke depan mukanya. Dia membawa motor sport hitamnya. Aku kira dia membawa mobil. Aku memang menyuruhnya untuk menunggu di pertigaan dekat rumahku saja. Aku tidak mau dia menjemputku di rumah. Bisa lepas matanya melihat Key ada dirumahku =.=

“Kau ini namja apa yeoja? Matahari sore sejuk begini kau bilang panas? Sesekali biarlah kulitmu yang lebih mulus dari yeoja itu menikmati bagaimana rasanya matahari sore” Dino mencubit pipiku pelan. “Aigo~ yeojaku makin manis saja kalau sedang marah” gombalnya lagi. Kutepis pelan tangannya yang mencubit pipiku. “Kau ini pintar sekali merayu. Ayo berangkat sekarang” suruhku galak. Tapi, walaupun nada suaraku terdengar ketus, sedari tadi dia hanya senyam senyum, senyam senyum merespon sikapku.

Dino memakaikan ku helm berwarna senada dengan dress ku. Memakaikannya dengan perlahan dan lembut sekali. Aku suka sekali melihat senyumnya yang sedari tadi tampak tak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian dia menuntunku naik dari motornya yang tinggi itu. Dengan gaya duduk perempuan, tidak mungkin aku duduk dengan gaya laki-laki. Aku sedang memakai dress sekarang. Aku tidak ingin namja-namja hidung belang yang melihatku mendapat tontonan gratis =.=

“Dino.. pelan-pelan. Jangan ngebut! Awas saja kalau ngebut. Kujitak kepalamu sampai kau botak!”

“Arra chagi. Aku tidak akan ngebut. Pegangan yang erat ya” Dia menepuk-nepuk tanganku yang melilit di pinggangnya. Uwaaaa… jantungku berdetak kencang. Bagaimana kalau dia menyadari? Ah~ masa bodoh. Memang kenapa kalau dia tau? Aigo~ tubuhnya… wangi sekali. Bukan wangi parfum. Bukan. Tapi.. apa ya? Baunya itu lain. Wangi… memang iya wangi. Tapi aku yakin ini bukan wangi parfum. Baunya membuatku nyaman. Tiap aku mengirupnya, lalu masuk kedalam paru-paru ku… itu rasanya… sangat hangat dan nyaman sekali.

***

“Chagi~ kau melamun terus dari tadi. Kita sudah sampai”

“Oh? Jjinja? Kenapa cepat sekali?” tanyaku bodoh. “Hahaha.. itu karena kau terlalu banyak bengong chagi.. kekeke”

“Sudah! Berhenti tertawa, atau aku pulang sekarang!”

“Aish~ kau selalu mengancam dengan gaya aegyo mu itu. Membuatku tidak tahan untuk mencubit kedua pipi cabimu ini” Dicubitnya kedua pipiku yang tembem. Digoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Padahal aku masih memakai helm sekarang. Banyak pasang mata yang melihat kemesraan kami. Mungkin mereka iri. Hahahaha

“Appo Dino pabbo! Lepas~” rengekku manja. Dilepaskannya tangannya dari pipiku. Kembali dia melepas helmku yang masih aku pakai sedari tadi. Motornya dia tinggalkan di tempat parkir. Ditariknya tangan kananku, memasuki lotte world, tempat kencan yang paling terkenal setelah namsan tower.

Aku senang sekali. Tidak pernah menyangka aku akan berpacaran dengan namja playboy ini. Aku menyukainya. Sangat. Walaupun aku tidak tau dia bersungguh-sungguh atau tidak, yang penting aku menikmati ini. Senyumnya, kelembutannya, perhatiannya, aih~ semuanya seperti dilakukannya dengan amat tulus padaku. Aku akan menikmati ini selagi… selagi rasa sayangnya itu masih ditujukan untukku.

“Chagiya~ inhyeong-eul joahaeyo?” Tanyanya tiba-tiba. Kami sedang berkeliling. Tidak tau harus melakukan apa. Sedari tadi tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan ku. Melonggarkan genggamannya sedikit saja tidak bisa. Apalagi melepasnya?

“Inhyeong-eul?” Boneka? Kenapa dia menanyakan aku suka boneka? Aku mengangguk pelan merespon pertanyaannya. Dia tersenyum. Lalu mengajakku pergi. Menarik tanganku agar aku mengikuti langkahnya. Dan kalian tau? Si Dino pabbo ini mengajakku ke sebuah stand game =.= Kenapa tidak beli saja sih? Beli di toko, terus bayar. Kelar kan? Bukannya ini hanya menghabiskan waktu saja?

Sekarang dia berusaha menembaki bebek-bebek kuning yang melintas dihadapannya. Itu tidak mudah menurutku. Karena bebek itu berjalan dengan cepat. Sesuatu menggerakkan mereka. Dino kewalahan menembaki bebek itu. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang seperti sebal dengan bebek itu. Tak satu pun dari mereka yang berhasil Dino tembaki. Hahaha… gigih sekali dia.

Dan… menit demi menit berlalu. Kakiku sudah pegal menunggui dia menembaki bebek itu. Dia sangat keras kepala! Padahal aku sudah melarangnya untuk main lagi. Kapan kita naik odong-odongnya kalau begini? Eh? Maksudku naik bianglala =.= Kapan saling suapi gulali kalau begini? Aish! Dari tadi aku lelah berdiri menunggunya menembaki bebek kuning sialan itu.

“Jjong-ah~  berhenti saja. Kau sudah menghamburkan uang mu percuma. Kita beli saja di toko sehabis pulang dari lotte world nanti. Ok?”

“Tidak mau. Aku mau boneka itu. Bukan boneka dari toko. Kalau boneka toko aku bisa beli banyak”

“Aish!! Ya sudah! Terserah kau saja!” bentakku kesal. Aku menghiraukannya. Dia kembali fokus menembaki bebek-bebek kuning itu. Sudah berapa puluh ribu won dia habiskan untuk ini? Pemborosan sekali. Dino jelek ini, tetap kekeh dengan pendiriannya. Sedangkan ajussi penjaga stand, tersenyum puas karena standnya disambut antusias oleh namja egois, yang tidak mau kalah dari bebek. Yang untung siapa? Tentu saja ajussi itu =.=  Memang Jjong tidak sepenuhnya gagal. Tapi untuk mendapatkan hadiah, yang berupa boneka itu, harus menembak lima bebek. Tapi namja ini sedari tadi hanya berhasil menembak paling banyak cuma tiga ekor bebek.

Aku memang salut dengan kegigihannya itu. Tapi tidak begini juga kan? Niat awal kemari kan ingin kencan? Kenapa sekarang malah menembaki bebek? =.=

Dor..dor..dor..

Tuh kan. Cuma tiga bebek lagi =.= Menyerah saja sudah.. Diam-diam aku meliriknya. Dia mengacak rambutnya frustasi. Kasihan juga melihatnya frustasi seperti itu.

“Bagaimana anak muda? Mau main lagi?” tanya ajussi si penjaga stand game ke Dino. Aku melihatnya dengan masih melipat tangan di depan dada. Menatapnya garang. Mataku seakan menyuruhnya untuk ‘berhenti bermain’! Dia memang agak tersentak dengan mata melotot garangku. Tapi kemudian, dia melihat ajussi itu lagi. Ajussi itu tersenyum begitu Dino menoleh padanya. Aigo~ pasti ajussi itu senang sekali. Mungkn dimatanya, Jjong itu sekarang pohon uang. Matanya saja hijau begitu. Ok . Aku bohong. Mata ajussi itu memang tidak hijau. Itu hanya sebuah perumpamaan saja. Mata hijau artinya mata duitan. Sama seperti ajussi itu. Mata duitan!!

“Ya ajussi. Aku main lagi” Ajussi itu tersenyum puas sekali mendengar jawaban Dino. Dasar Dino baka! “Tapi sebelum aku bermain, aku perlu dopping” Dopping? Astaga! Masa dia perlu obat kuat hanya untuk menang dari bebek? Yang benar saja =..=

“Chagi! Torawa~ palli~” panggilnya. Aku yang tetap berdiri di tempatku, enggan menghampirinya. Karena aku tak urung juga menghampirinya, dia malah menghampiriku. Menarik tanganku, menuju ke tempat pemborosan uang itu lagi.

Dia melepaskan tangannya. Melihatku sambil membungkukkan sedikit badannya. Mensejajarkan kepalanya dengan kepalaku agar sama tinggi. Sedangkan aku, melihat kearah lain. Aku tidak mau melihatnya. Aku kesal padanya. Dino menyentuh daguku. Diputarnya daguku, sehingga kini aku melihat matanya yang hitam dan indah itu. Dino tersenyum manis. Omo! Aku meleleh…

“Chagiya~ aku janji. Aku janji, kalau kali ini aku kalah, aku tidak akan main lagi. Aku yakin kali ini aku pasti menang” ucapnya yakin penuh percaya diri. Ya Tuhan.. kenapa rasa percaya dirinya tiba-tiba mengudara seperti itu? Apa dia tidak sadar? Dia sudah kalah keberapa kalinya terhitung sampai saat ini?

“Tapi.. aku perlu dopping untuk menang” katanya manja. “Dopping? Dino baka! Disini tidak ada apotik! Dimana kau a—“

Cup

Eh? Apa itu barusan?

“Dasar. Yeojaku bodoh sekali sih. Dopping yang aku maksud, bukan dopping dopping obat kuat. Tapi dopping dari bibir manismu itu. Wah…. Barometer percaya diriku langsung naik 100%”

Dino mengacak rambutku pelan. Dia berbalik. Mulai fokus melihat bebek berjalan yang akan siap ditembaknya. Sedangkan aku? Aku masih… yang pasti kesadaranku belum kembali sepenuhnya. Jjong.. dia.. Dino itu… mengecupku? Di depan umum? DI DEPAN UMUM????? DI BIBIR PULA!?

Dor…

Jantungku berdetak kencang….

Dor..

Wajahku panas…..

Dor….

Bisa kulihat ribuan pasang mata, masih melihatku. Apa yang mereka pikirkan tentangku?

Dor…

Ck! Semua gara-gara si Dino pabbo ini! Dasar muka tembok! Tidak tau malu!

Dor…

Dasar setan pencium!

“Yeah!!! Chagi!! Aku berhasil!!! Yea~~” Jjong yang meloncat-loncat layaknya monyet gunung Himalaya, membuatku agak tersentak kaget. Dia menghampiriku. Membawakanku sebuah boneka tedy bear besar berwarna coklat.

“Tada! Boneka manis, untuk orang yang manis” Kepalanya menyembul dari balik boneka tedy bear besar yang dia bawa. Sungguh. Tingkahnya ini tidak tepat kalau dibilang romantis. Kalau dibilang kekanakan sih iya. Itu baru benar. Sangat malah. Digoyang-goyangkannya boneka tedy bear besar itu, menyuruhku dengan gerak pantomimnya, mengambil boneka yang ada ditangannya.

Aku menyambutnya dengan senang hati. Walaupun wajahku tertekuk seperti orang kesal, tapi sebenarnya aku sangat senang menerima boneka pemberian Jjong. Si dinosaurus purba, yang telah menjambret hatiku. Aish! Bahasanya jelek sekali. Mungkin lebih baik kalau dibilang mencuri saja. Kalimat konotasinya terdengar lebih bagus.

“Jangan cemberut terus dong chagi~ Apa kau tidak suka dengan bonekanya? Padahal aku mendapatkannya dengan susah payah”

Wajahnya sedih sekali. Aku jadi merasa bersalah. Bukan bonekanya yang aku tidak suka. Tapi karena sikap pemborosannya itu. Aku tau dia melakukannya untukku. Tidak dapat aku elak, kalau aku sangat senang dia mau memanjakanku. Mau bersusah payah untukku. Tapi… ah! Ya sudah lah! Biarkan saja. Bukankah egois namanya, kalau tidak menghargai kerja keras orang lain? Sesekali membuat dia senang, apa salahnya?

Cepat-cepat aku mengukir senyum di bibirku. Langsung kuumbar padanya. Memberitaunya lewat senyumku, bahwa aku menyukai boneka pemberiannya. “Aku suka chagi”

“MWO?”

Bodoh! Bodoh! Aku tadi keceplosan memanggilnya chagi. “Ani~ bukan apa-apa. Aku suka bonekanya. Itu saja” elakku. “Geotjimal! Tadi kau memanggilku chagi kan.. ayo mengaku saja. Panggil aku chagi lagi seperti tadi. Palli” paksanya. “Shiro!” tolakku cepat. Dengan tergesa, aku berjalan tak tentu arah. Aku malu! Auh~ kenapa aku bisa sampai keceplosan seperti itu? Memanggilnya chagi??

Dino mengejarku. Berusaha menyamai langkahku. “Stop!!” cegatnya, menghadangku lebih dulu dari depan dengan ditambah dua tangannya yang merentang kesamping. “Kalau kau tidak mau memanggilku chagi sekarang juga, aku akan…… aku akan…..”

“Akan apa?”

“Akan….. menggelitikimu” Dengan cepat dia menggelitiki pinggangku. Aku tidak suka digelitiki. Karena itu akan membuatku tidak tahan untuk tertawa.

“Hahaha… Jjong. Hentikan. Hahaha… hahahaha… hahaha.. Ya! Dino! Aku bilang Hentikan!! Hahaha” Oh Tuhan.. dia semangat sekali menggelitikiku. Sungguh. Perbuatan kami sekarang ini, benar-benar tidak tau tempat dan waktu. Saking senangnya, kami lupa kalau kami ini sedang ada di lotte world. Tempat ramai. Dunia ini seakan milik berdua. Yang lainnya, cuma ngontrak!

“Kim Jonghyun?”

Satu suara lembut, cukup untuk membuat aktifitas Jjong yang menggelitikiku terhenti. Aku dan Jjong menoleh kearah timbulnya suara. Tepat dibelakang kami. Kalian tau apa yang sedang aku lihat sekarang? Sesosok yeoja yang sangat cantik sedang tersenyum memandangi Jjong. Tatapannya lembut sekali. Begitu pun dengan Jjong. Dia membalas tatapan yeoja itu tak kalah lembut.

“Jessica?” ucap Jjong pelan. Aku mencium gelagat yang sangat tidak enak. Tiba-tiba saja, yeoja itu.. yeoja yang dipanggil Jessica oleh Dino berlari kepelukan Dino. Memeluknya erat. Ya! Apa-apaan ini? Siapa yeoja ini? Baru bertemu sudah main nyosor memeluk namjaku? Halo~~ ada yeojachingunya disini. Tolong hargai aku!!

TBC>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Chap 3 selesai 😆

Siapa sebenarnya Jessica? Mengapa dia dengan berani memeluk Jjong di depan Nari? Penasaran?? Tunggu chap 4’a ya? Yang gak suka atau kurang berkenan dengan FF ini, thor minta maaf ya. Dimohon partisipasinya untuk memberi kritik dan saran 😀

JANGAN JADI SIDERS..

Iklan

6 thoughts on “Saranghae~ Dino Pabbo Part 3

  1. sorry, dari part 3 baru bisa comment abiz emailnya error gitu, mian ya eonn

    Uuhh sica eonni datang ya? keren, konflik makin mencolok aza

    Btw lanjutannya lama ga? Jgn ya? Abist penasaran bgt.. Hwaiting!

Leave a Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s